Katawa Shoujo

I’m not an avid visual novel player.

Bahkan saya bisa menghitung jumlah “permainan” menyerupai visual novel yang pernah saya mainkan. Tapi kali ini saya ingin membahas visual novel yang baru rilis awal tahun ini. Daya tarik awalnya adalah sejarah munculnya visual novel ini sendiri. Bisa dibaca sendiri di situsnya, beberapa entri pasca perilisannya didedikasikan untuk menceritakan sejarahnya. Kalau berkenan pun bisa menelusuri arsip dalam blognya hingga tahun 2007. Kalau berminat mengunduh pun tersedia di situsnya.Kalau sudah memainkannya dan kepincut lagu-lagunya pun juga disediakan tautan untuk mengunduh lagu-lagunya di situsnya tersebut. Keduanya bisa diunduh gratis.

Berdasarkan cerita, visual novel ini berputar pada dua konsep. Konsep pertama dari kondisi protagonis (terserah kalau mau mengasosiasikan dengan diri sendiri) yang dilempar untuk memulai sebuah kehidupan baru, kedua adalah mengenai penerimaan atas kondisi yang tidak biasa menjadi sesuatu yang biasa. Bagian yang kedua ini mengantar ke suatu gimmick dari visual novel ini, di mana visual novel ini dibuat menjadi sebuah dating sim yang karakter perempuannya adalah perempuan-perempuan (atau siswi) sekolah berkebutuhan khusus. Dengan kata lain karakter yang ditemui dalam visual novel ini sebagian besar adalah gadis yang memiliki kekurangan, tentu saja ada karakter minor yang tidak senada tetapi mereka tidak jadi pilihan untuk err… dikencani.

Pertama mendengar tentang visual novel ini rasanya sekitar 2008 atau 2009. Waktu itu sedang dikasih proyek oleh unit di kampus saya dulu untuk membuat visual novel. Maksudnya mencari referensi dan dapatlah mengenai visual novel ini yang saat itu masih berupa demo yang hanya memainkan bagian 1 (Act. 1). Saat itu yang menarik perhatian pertama adalah gimmick dari visual novel ini di mana protagonisnya berinteraksi dengan gadis-gadis berkekurangan tersebut. Saat itu muncul pikiran, “I think I can relate well with this story.” Dan pikiran itu bertahan sampai 4-3 tahun kemudian saya memainkan visual novel ini secara utuh, 2 dari 5 rute (yang tampak resminya) tersedia. Kenapa saya merasa bisa berhubungan dengan konsep awalnya? Yah, sebutlah latar belakang pribadi secara a piori dan a posteriori setelah memainkannya pun rupanya gimmick tersebut bukanlah sekedar gimmick seperti ninja yang dapat menggerakkan pasukan zombi.

Hal lain yang membuat saya bisa merasa bersahabat dengan jalan cerita juga didukung dengan insight dari protagonis, Hisao Nakai, itu sendiri. Cuplikan gambar di atas dengan sebaris kalimat yang dari Rin, yang tergambar tersebut, menggambarkan protagonis kita dalam visual novel ini. Kalau sebelumnya saya sebut konsep pertama dalam visual novel ini adalah bagaimana memulai sesuatu yang baru setelah dilempar tanpa kehendak. Prolog visual novel ini menceritakan Hisao yang mendapat serangan jantung mendadak. Kemudian diketahui bahwa Ia menderita suatu kelainan jantung yang membuatnya terpaksa pindah ke sekolah baru yang dapat menunjuang kebutuhan medisnya, di sekolah baru inilah Ia bertemu dengan “teman-teman” baru termasuk 6 gadis yang 5 di antaranya memiliki rute masing-masing (untuk dikencani tentunya). Pada awalnya Hisao menyesali nasibnya ini, mendapat penyakit yang tidak mengenakkan dan pindah sekolah di tahun terakhirnya sekolah, akan tetapi seiring berjalan cerita dan interaksi dengan karakter lain, asumsikan dimainkan dengan baik, kita dapat menemukan Hisao kemudian menemukan kembali jalan hidupnya dan memulai hidupnya lagi dengan menerima kondisi Ia saat ini. Meninggalkan Hisao yang lama dan menjadi Hisao yang, yang menderita kelainan jantung.

Kelainan jantung yang diderita Hisao adalah bagian dari gimmick yaitu disability dalam VN ini. Penerimaan Hisao, atau protagonis atau si aku, dalam cerita ini adalah pesannya. Pesan klise tentang bagaimana seseorang menerima kondisinya tanpa mengasihani dirinya dan bisa menjalani hidup dengan kondisi yang terberi itu. Hal yang belum bisa saya wujudkan memang. 😀

Tapi bukan sekedar memberi penyemangat pada yang merasa memiliki kekurangan tertentu, yang signifikan, untuk menjalani hidupnya sebaik mungkin. Dulu ibu saya selalu bilang bahwa setiap orang pasti punya kekurangan, terlihat atau pun tidak. Meski bahasa saya lebih senang menggunakan kata, kecil maupun besar. Kelainan jantung Hisao mungkin besar, seperti Lilly yang buta. Tetapi kekurangan kecil seperti saya tidak sanggup mengendarai mobil, tidak bisa melafalkan ‘R’ pun bukan berarti dilewati begitu saja. Kekurangan itu adalah bagian dari diri kita, yang menjadikan diri kita. Radikalnya tanpa kekurangan itu justru diri kita menjadi tidak lengkap, cacat, bukan justru menjadikan kita lebih sempurna. Ini mengantarkan pada konsep kedua.

Konsep kedua sederhananya adalah seperti pemutarbalikan apa-yang-normal dan apa-yang-tidak-normal. Di luar sekolah Yamaku bertemu dengan salah satu siswa/i Yamaku adalah sesuatu yang janggal dan butuh penanganan khusus. tetapi di dalam Yamaku yang merupakan sekolah untuk siswa/i berkebutuhan khusus justru sebaliknya. Menarik hal ini keluar, yang pertama membuat orang terheran (setidaknya beberapa kenalan saya) ketika mendengar tentang VN ini adalah sebagai sebuah dating sim kita dihadapkan pilihan pada gadis-gadis berkekurangan. Sudah saya sebut di awal gimmick tersebut justru yang membuat saya semakin antusias, dan antusiasme saya tidak terbayar percuma, tetapi antusiasme itu rupanya tidak selalu ada di orang lain. Maka masih senada dengan konsep kedua yang saya sebut itu, visual novel ini dengan penulisan cerita yang baik mampu memberi pesan mengenai bagaimana berinteraksi dengan mereka yang, tidak normal di mata sehari-hari kita.

Saya juga masih sering merasa canggung ketika berhadapan dengan pengemis yang berkekurangan di pinggir jalan. Atau di kampus pun menemui mahasiswa/i serupa. Bagi mereka itulah diri mereka, tetapi saya sendiri merasakan kecanggungan bagaimana agar tidak salah bertingkah. Dalam bahasa VN ini, bagaimana bercinta dengan seorang gadis buta? Bagaimana merasakan apa yang Ia lihat? Itu salah satu contoh saja.

Bicara soal bercinta. Sebagai dating sim VN ini datang dengan adegan yang memiliki rating 17+. Ini mungkin bisa menarik kontroversi. Tapi mengesampingkan kontroversinya terlebih dahulu saya merasa tidak terlampau keberatan dengan keberadaan adegan tersebut. Sebagai sebuah VN saya lebih mendapati seperti membaca Dance Dance Dance beberapa minggu lalu atau Samurai: Kastel Awan Burung Gereja saat SMA dulu. Saya sendiri baru menemukan adegan 17+ di satu rute saja dan saya tidak menemukan penggambarannya lustful lebih seperti ketika saya membaca novel yang kedua itu. Meski saya samar ingat seberapa eksplisit dalam novel kedua itu. Penggambaran adegan 17+ digambarkan dengan sederhana, visual yang menyertai pun tidak dibuat untuk membangkitkan birahi atau semacamnya. Karena pula ini adalah sebuah VN yang berat teks, maka setidaknya perhatian bisa teralih ke teks dibanding gambar. Kalau itu pun masih dirasa tidak nyaman, tersedia opsi untuk mematikannya. Saya sendiri tidak mematikan untuk mendapat keseluruhan ceritanya.

Saya dapat mengasosiasikan diri dengan ceritanya, dengan gimmick-nya, dan gimmick tersebut pun dikembangkan menjadi sebuah cerita yang baik membuat saya dapat menikmati VN ini. Meski insight Hisao yang saya katakan menarik itu sebenarnya adalah sesuatu yang sudah biasa saja tetapi menarik. Terlebih apabila di awal terasa kurang bisa me-relate dengan cerita yang akan diterima. Terserah mau menilai Hisao sebagai seorang sinis maupun realis (atau bahkan galau tingkat akut), akan tetapi menempatkan diri sebagai protagonis bukanlah hal yang buruk juga kalau memang ingin mengapresiasi sisi emosional dari VN ini. Adegan klise dan keju tetap ada, sebagaimana sterotyping jenis karakter di luar kekurangan mereka masing-masing. Tapi betapapun klise sebuah adegan di penghujung cerita Lilly tetap bisa membuat saya meneteskan air mata.

Ini tentang bagaimana menerima kondisi tidak mengenakkan dalam diri dan juga dalam orang lain. Dalam bahasa kejunya, bahasa cintanya, bagaimana mencintai kekurangan diri sendiri begitu pula kekurangan orang lain. It’s a dating sim after all.

Anyway, If you think I’m being too serious. You should thank this guy for the more dependable review rather than my somewhat-trying-to-convey-something-personal review. Also check out the postscript on his review, for dat feel bro moment.

P.S. Selamat Tahun Baru 2012 bagi yang merayakan. Meski saya tidak merayakan, Katawa Shoujo yang rilis pada tanggal 3 Januari 2012 kemarin adalah sebuah kejutan dan hadiah awal tahun yang cukup memuaskan untuk mengawali tahun ini 😆

Iklan

“Sigh”

Sigh by Ootomo Megane pg. 13-14

“Baca” dari kanan ke kiri.

Belakangan selain disibukkan dengan tugas dan ujian saya jadi sering main ke tumblr. Jadi kalau postingan kali ini saya ngerasa ini gayanya agak tumblr-ish, meski di tumblr saya berusaha untuk selalu nge-post dalam Bahasa Inggris. Mungkin kompensasi untuk blog saya yang berbahasa Inggris itu tapi sekarang sudah terbengkalai. Yah, ini juga gak beda sih.

Tentang halaman yang saya pasang di atas tersebut. Saya comot dari komik shoujo-ai buatan Ootomo Megane. Ada dalam antologi komiknya dia, ini salah satu cerita saja. Melihat dua halaman saja jelas tidak bisa menceritakan isi dari seluruh 6 cerita yang ada di antologi tersebut. Tapi memang bukan itu tujuan saya. Lagipula toh, kalau masih rentan dengan isu homoseksual lebih baik tidak saya bahas soal ceritanya kan? :p

Kalau saya mau tidak bertanggung jawab, saya akan menyerahkan pada yang membaca sampai tulisan ini untuk menginterpretasi dua halaman itu sendiri. Secara pribadi saya memaksudkan untuk mengapresiasi dua halaman tersebut, bahkan keseluruhan bab cerita ini pun buat saya bagus secara artistik sebagai komik. Untuk dua halaman di atas saya mau mengatakan kedua halaman tersebut adalah komik yang berpuisi secara visual. Ini bukan komik bisu, tetap ada dialog di halaman sebelumnya. Bahkan dialognya pun menurut saya diletakkan secara puitis, meski saya cuma bisa membaca scanlationnya.

Ngomong-ngomong sebentar lagi tahun baru.

Jadi yah, kalau ada yang berminat membandingkan interpretasi. Kalau mau mengacu ke ucapan bahwa “apa yang diletakkan di dalam suatu panel lebih penting dari bagaimana menggambarnya,” maka saya mau mengakui kedua halaman di atas adalah sebuah pencapaian yang bagus. Kalimat itu pernah disebutkan oleh Scott McCloud kalau tidak salah.

Lebih lengkap soal komiknya. Antologinya berjudul “Himitsu” atau “Secret (Love)”, buatan Ootomo Megane. Halaman tersebut ada di cerita keenam yang berjudul “Toiki” atau “Sigh”. Sekali lagi, ini adalah komik bergenre shoujo-ai. Mohon kebijaksanannya. [link] ke mangaupdates.com

Berapa hari lalu saya menulis pendek tentang shoujo-ai juga di tumblr. Bisa dilihat kalau berkenan.

Ya, ini cuma postingan ringan yang dibuat untuk menghela napas di tengah waktu mengerjakan tugas kuliah.

Zizek dan Komunisme yang Membosankan

First as Tragedy, Then as Farce

Minus 22 jam dari minggu perkuliahan kedua di semester 5. Di sela pengerjaan tugas membuat rangkuman tulisan Slavoj Zizek dalam buku “First as Tragedy, Then as Farce“. Bagian kedua buku ini, bagian yang saya kebagian disuruh baca, membahas hipotesis komunisme di era kontemporer ini. Sempat saya kira komunisme itu sudah basi dan terlalu loyo untuk diungkit lagi. Tapi saya ternyata melupakan fakta bahwa eksistensi komunisme tetap seksi di era demokrasi liberal ini, karena anti mainstream itu keren.

Saya bukan komunis, meski dulu pernah berpikir untuk menjadi satu. Justru adanya saya gerah membaca halaman-halaman dalam bagian tengah buku ini. Terlalu emosional, kalau dibandingkan dengan paper teman saya tentang media sosial. Terlalu kiri, terlalu membosankan. Cukup menggunakan kata “terlalu” karena masalahnya bukan di “kiri”, “membosankan”, “emosional” tapi di “ter-la-lu” seperti kata Bang Rhoma Irama. Zizek tidak salah juga dalam menganalisis dan mengkritik fenomena kontemporer, paling kontemporer yang sudah saya baca di sini dia mempertanyakan Obama, rasanya Zizek sama seperti kebanyakan orang sekarang yang menanalisis perkara-perkara yang membuat kenapa masih ada saja orang yang tidak berpuas diri kalau memang demokrasi liberal dan kapitalisme memang adalah jawaban untuk kebahagiaan atau secara sosialnya untuk perdamaian dalam perbedaan, tapi tetap satu. Tapi kalau Zizek dirasanya terlalu politis, terlalu sosialis, terlalu kiri, dan seolah di matanya dia memandang segala yang relevan adalah problematika manusia hidup bersama. Saya menemukan di lain kesempatan ada Michael Foley yang saya baca bukunya, “The Age of Absurdity” saat liburan kemarin, memberi pandangan yang lebih personal, lebih membumi dibanding Zizek. Saya harusnya tahu memang dua orang ini harusnya memandang dua problem berbeda, dengan dua pandangan berbeda. Saya lupa juga di bagian pertama buku Zizek ini sebelumnya Ia mengkritik kapitalisme yang tetap saja jahat walau dipuja orang-orang.

Kembali soal Zizek dan Komunisme yang Membosankan-karena-terlalu-diulang-ulang-terus-sampai-bosan-dengarnya, ini pendapat pribadi saya saja. Keberatan saya ada di bagian pandangan Zizek yang terlalu politis itu. Kalau politik kita anggap tentang bagaimana manusia hidup bersama, baiklah manusia memang hidup bersama tetapi memandang segala sesuatu tentang kebrsamaan hidup manusia bersama adalah sesuatu yang rumit, membosankan. Terima kenyataan bahwa komunikasi dan kehidupan bersama adalah sesuatu yang absurd dan terlalu absurd pula untuk dibahas. Saya katakan komunisme yang dibahas Zizek di sini membosankan, sampai titik ini, karena penyebab itu. Buat saya mencari jawaban, atau pembenaran, atas jungkir baliknya kehidupan kontemporer dengan mengulas manusia secara kumpulan individu atas dasar pandangan bahwa manusia adalah individu yang hidup bersama–politis–adalah cara pandang yang membosankan. Saya lebih suka pendekatan Foley yang lebih personal, baginya jawaban ditemukan dengan menjadikan diri sebagai crank, bukan filmnya Jason Statham. Pendekatan Foley lebih menyebalkan sebetulnya dibanding Zizek yang lebih manusiawi. kalau saya mau berkata, Zizek memilih untuk mengurusi manusia. Foley justru memilih untuk keluar, sejenak, dari kumpulan manusia.

Kalau saya mau mengikuti Zizek, mungkin saya akan lebih berisik. Tapi saya memilih untuk tutup telinga. Sebulan sudah saya tutup telinga dari suara speaker masjid dan dakwah musiman di televisi dari beragam jenis ustadz. Ternyata selepas musim religi itu masih ada lagi ustadz-ustadz sok inkonvensional yang masih malang melintang, di sinetron. Di lain kesempatan saya bertemu dengan segerombolan darah muda yang sibuk membahas anime teranyar, di sisi lain ada lagi darah muda lain yang berhingar bingar dengan lagu pop. Mungkin hidup ini emang cuma sinetron. Sepuluh tahun yang lalu arc perang melawan terorisme dan Islamophobia dimulai, sekitar 20 tahun lalu arc perang melawan komunisme sudah selesai. Film Captain America menghidupkan lagi cerita arc perang melawan Naziisme di tahun 40-an. Itu semua dari pandangan Amerika, kalau dunia ini memang sejarah dan sutradaranya adalah Amerika. Maka komunisme seharusnya memang sudah basi. Lucu kalau saya merasa Zizek sendiri yang justru membuat komunisme itu menjadi membosankan.

Jibril dan Kuliah

Beberapa jam menjelang hari pertama perkuliahan semester 5 di universitas negara ini. Beberapa jam berlalu setelah peringatan 10 tahun peristiwa 11 September. Kemudian di dini hari ini muncul wangsit untuk membuat sebuah tulisan. Saya tidak mau berbicara tentang peristiwa 11 September, karena 10 tahun yang lalu baru siang 12 September saya mengetahui persis kejadian pastinya. Bukan kondisi informasi masa itu yang belum secepat koneksi HSDPA ponsel pintar saya, hanya perkara ketidakacuhan.

Dua tahun yang lalu saya baru mulai kuliah di sini dan mengambil satu mata kuliah pilihan. Mata kuliah pilihan itu memberi tugas akhir semester untuk membuat sebuah komik strip. Komik strip yang saya buat sederhana saja, cukup satu halaman. Seingat saya mungkin itu satu-satunya komik genah yang saya buat sekian lama saya keranjingan komik. Yah, maksudnya saya katanya komikus tapi kok tidak pernah membuat komik yang tuntas. Bukannya menghabiskan waktu membaca komik atau sekedar fangirling serial atau karakter dari serial tertentu saya lebih menghabiskan waktu merenungi apa yang sudah saya buat, padahal nyatanya belum membuat apa-apa. Ditanya tentang serial animasi, saya malah lebih mahfum menjawab tentang serial TV Amerika yang teranyar. Kadang saya bingung jadi saya ini sebenarnya komikus atau bukan? Walau saya tahu komikus-komikus lain juga pasti menonton serial-serial itu, kalau tidak pasti ya kemungkinan itu ada.

Kembali ke soal satu-satunya komik saya yang dirasa genah ini. Cerita pendek yang menceritakan malaikat Jibril dan tugasnya. Saya buat ini berdasar apa yang dulu diajarkan ustadz, bahwa tugas malaikat Jibril adalah mengantarkan wahyu. Muhammad saat menyepi di gua Hira didatangi oleh Jibril dan disuruh membaca, tiga kali. Tapi komik strip yang saya buat sama sekali gak Islami, entah kenapa. Kalau dilihat ustadz saya itu dulu mungkin beliau terheran-heran kok bisanya saya buat komik begitu.

Di komik itu Jibril diberi tugas mengantarkan sebuah surat yang tertutup. Tetapi di tengah jalan suratnya terbaca secara tidak sengaja olehnya. Ia membaca lagi isi surat itu dan berpikir isi pesannya terlalu rumit dan khawatir si penerima pesannya nanti tidak dapat mengerti maksud dari pesan itu. Khawatir karena Ia kira tugasnya bukan sekedar menyampaikan pesan dengan mengantarkan surat saja tetapi bukankah juga itu termasuk memastikan si penerima mendapatkan maksud dari pesan itu. Pada akhirnya Ia tidak ambil pusing dan berpikir, bahwa si pengirim tentunya mengirim pesan yang semestinya bisa dipahami si penerima pesan.

Maknanya apa? Saya enggak ada maksud memasukkan perdebatan teologis ketika membuat komik strip ini. Niatan saya ketika itu ya cuma untuk lulus satu mata kuliah ini. Kebetulan saat itu saya sedang ada draft karakter “Jibril” ini, yang memang seorang kurir. Saya gunakan draft karakter itu untuk tugas akhir dan selesai sudah. Saya pernah mempublikasikan komik strip ini dulu, tapi kalau berkenan mau dilihat silakan lihat dimari.

Sputnik Sweetheart

Saya bukan mau menulis resensi. Kebetulan saja baru selesai membacanya dan terpikir untuk berbagi kesan sedikit, yang tidak cukup melalui microblogging macam plurk atau twitter. Rasanya lucu juga tapi ternyata apa yang ingin saya tulis bukan sebuah resensi yang mendalam tapi tetap saya masukkan dalam blog. Relatif anggapannya akan lebih dalam dan tidak sesantai membaca aliran teks dalam garis waktu di twitter atau plurk. Tapi saya punya kemalasan saya sendiri untuk tidak membuat resensi.

Buku yang baru selesai saya baca judulnya sama dengan judul entri ini. Judul entri ini seperti itu karena saya malas memberi judul atau karena memang saya ingin menggambarkan isi buku itu dari entri ini. Entahlah. Oh, ini bukan buku sebagai buku, ini buku novel. Penulisnya memang penulis kesukaan saya, Haruki Murakami. Beberapa waktu lalu saya menghabiskan membaca memoarnya.

Secara garis besar ceritanya tentang Si Protagonis dengan teman lesbiannya. Awalnya saya kira akan membahas topik homoseksualitas di sini, tapi rupanya tidak banyak. Dengan kata homoseksualitas saya memaksudkan kata `homo` dan `seksualitas` di mana `seksualitas` adalah tema yang cukup umum dalam novel-novel Murakami. Seksualitas bisa ditemui di sini walau tidak sevulgar yang saya temui dalam Norwegian Wood. Tapi tak usah lah dibahas. Tema yang dibahas justru `kesendirian`. Lalu saya ambil sebuah paragraf dari novel tersebut:

And it came to me then. That we were wonderful travelling companions, but in the end no more lonely than lumps of metal on their own separate orbits. From far off they look like beautiful shooting stars, but in reality they’re nothing more than prisons, where each of us is locked up alone, going nowhere. When the orbits of these two satellites of ours happened to cross paths, we could be together. Maybe even our hearts to each other. But that was only for the briefest moment. In the next instant we’d be in absolute solitude. Until we burned up and became nothing.

That paragraph struck me. The first time I read it, I’m amazed. The second time, I laughed.

Masih ada baris-baris lain yang juga menarik tapi untuk kali ini biarkan saja paragraf itu dulu. Secara ringkasnya, menarik adalah bahwa memang begitu seringkali terasa hubungan dengan orang lain. Komunikasi. Terhubung untuk beberapa saat lalu kemudian terpisah lagi, dan sadar bahwa manusia memang sendiri. Dalam novel ini Haruki Murakami benar-benar memainkan perasaan kesendirian dengan menarik. Ditambah dengan roman yang membuatnya seperti fanservis, yang tetap menarik.

Kalau dari biasa saya baca kesendirian tiap karakter dalam novel-novel Murakami dibangun begitu saja. Di novel ini hal itu diperkuat. Seolah ditegaskan benar-benar bahwa tiap karakter benar-benar adalah sendiri, benar-benar adalah individu manusia yang terpisah satu sama lain. Hanya terhubung oleh segala macam cara komunikasi. Jam kerja, telepon, sementara pada nyatanya mereka tetap sendiri di luar itu. Dalam telepon pun mereka tetap sendiri di kotak telepon, di kamar tidur, kotak telepon entah di mana. Kemudian bagaimana berharganya juga manusia lain bagi satu manusia, ketika manusia lain itu hilang barulah kesendirian itu datang.

Dan seperti sekarang liburan semester dimulai, perlahan manusia-manusia itu menghilang.

Kingdom Hearts dan Megami Tensei

Seorang kenalan saya pernah menulis kalimat semacam ini di status Facebook:

Final Fantasy adalah game yang dibuat oleh desainer. Megami Tensei adalah game yang dibuat oleh seniman.

Terlepas dari keakuratan saya menulis kembali pernyataanya di sini, kalimat ini menggerakkan saya untuk menulis sesuatu yang lagi saya gandrungi. Sebuah gim berjudul Kingdom Hearts: Birth by Sleep dan universenya. Soal akurasi pernyataan tersebut coba ditanya kepada orangnya langsung, Saudara Harun. Kemudian soal ketiga gim yang disebut sebelumnya, wikipedia is your friend.

Sebuah pujian menjadi awal mula entri ini. Pujian ini saya alamatkan kepada seri terbaru franchise Kingdom Hearts tersebut karena memiliki plot cerita yang membangkitkan kembali gairah dengan sentuhan baru. Setelah pertama kali sukses menciptakan sebuah gairah dengan menggabungkan dua unsur yang unik satu sama lainnya, tradisi RPG Jepang dengan kartun Amerika a la Disney. Kalau seri pertama tersebut memberikan sebuah angin segar melalui sintesis dua hal tersebut, seri terbaru ini memberi angin segar dengan memunculkan sebuah plot segar walau sebenar-benarnya masih terjatuh dalam tradisi fantasi-terlalu-serius dan justru menginjak-injak kepolosan dan klise-klise a la Disney yang menjadi pendampingnya.

Singkatnya seri terbaru franchise Kingdom Hearts ini membuat saya kembali merenungi aspek-aspek yang ada dalam franchise tersebut. Baru tersadari kalau aspek-aspek yang ada rupanya erat dengan apa yang dapat ditemui di perkuliahan filsafat manusia. Rupanya Kingdom Hearts menyentuh aspek filsafat, ada filsafat dalam sebuah gim. Bukan sesuatu yang mengejutkan. Sementara dalam seri MegaTen yang lebih kelam dibandingkan dengan seri Kingdom Hearts dengan gamblang banyak mengambil aspek mitologi dan tak jarang menyentuh teologi. Kembali pada kutipan di awal entri, perdebatan apakah desainer dan seniman adalah dua entitas yang berbeda atau sama, atau malah dua sisi dalam satu koin terserah mau menyebut bagaimana. Bukan saatnya mendiskusikan itu karena untuk saat ini saya membedakan keduanya.

Saya membedakan dengan mengambil contoh dua gim dari masing-masing franchise. Pilihan yang saya ambil mungkin tidak tepat, tetapi saya sesuaikan dengan kapasitas pengalaman saya. Saya mengambil spinoff seri MegaTen yang pernah saya mainkan, Persona, dengan Kingdom Hearts: Birth by Sleep yang sedang saya mainkan. Dari segi desain visual, Persona memiliki nuansa yang lebih imajinatif, lebih familiar, mengambil unsur-unsur yang lebih familiar dengan keseharian. Sementara KH:BBS jelas adalah murni fantasi kalau mau disebutkan, kalau mengambil contoh Kingdom Hearts pertama bisa kita jadikan anekdot “siapa yang mau mengenakan sepatu sebesar itu untuk pergi ke sekolah?” Tapi melihat sepatu kuning besar milik Sora dan celana gombrong berwarna merah itu, apakah tidak mengingatkan kita pada sosok Mickey Mouse?

Saya mengangguk setuju pernyataan teman saya tersebut. Dengan bukan hanya melihat segi visualnya saja tetapi juga dengan mengaitkan konteks yang dibawa masing-masing gim. Di permukaan gim Kingdom Hearts: Birth by Sleep mengisahkan petualangan tiga pendekar dalam menyelamatkan dunia, sangat klise. Sementara Persona mengisahkan sebuah plot pos-apokaliptik dengan mengobrak-abrik pemahaman pemainnya mengenai konsepsi akan common sense, pernyataan ini mungkin melebih-lebihkan tetapi saya mengambil contoh Persona 4 yang saya lebih familiar, di dalam gim tersebut sisi antagonis bukanlah sekedar monster jahat melainkan alam bawah sadar karakternya sendiri yang bentuknya berupa penolakan akan diri sendiri maupun disorientasi seksualitas. Hal yang tidak ditemui secara dangkal dalam seri Kingdom Hearts, mungkin karena perbedaan arah dan premis tetapi penggalian aspek dalam Kingdom Hearts mungkin terlalu terfokus pada apa itu menyelamatkan dunia alih-alih disorientasi seksualitas karakternya. Daripada memikirkan alam bawah sadar karakternya lebih baik pasangkan saja langsung karakter berjenis kelamin sama untuk menimbulkan sensasi homoseksualitas. Seri Persona dengan membawa objek-objek yang lebih dekat dengan keseharian seolah mengusung sebuah gagasan agar pemainnya melakukan refleksi atas dirinya sendiri, entah menjadi sekedar katarsis atau sampai ke taraf di mana gim tersebut menjadi aspek dalam dirinya selayaknya Ia membaca sebuah buku, kitab suci, atau sejelek-jeleknya sebutlah buku motivasi. Sementara seri Kingdom Hearts dengan fantasinya membawa pemainnya untuk bermimpi dalam dunia yang asing, mereka menjadi orang asing dalam dunia asing dan berusaha menjadi bagian dari dunia yang asing tersebut.

Melalui pernyataan panjang di atas dengan berat, secara tidak langsung, saya terkesan meletakkan desainer dalam derajat lebih rendah dibanding seniman. Tapi perdebatan mengenai ini bukan yang menjadi fokus saya sekarang. Kembali pada pernyataan di awal, apa yang saya tangkap adalah mengenai penggalian aspek tersebut. Apabila seri Final Fantasy dikaitkan dengan desainer mungkin dikarenakan seri tersebut lebih mengutamakan desain fantasional dengan premis dan aspek yang relatif lebih dangkal namun familiar dan mudah diterima. Desainer mengutamakan sebuah ‘karya’ yang menarik dan terikat dalam batas komunikasi, sebuah ‘karya’ desain bukan hanya mesti menarik tetapi juga mesti komunikatif. Sementara desain MegaTen terlihat lebih sederhana, alakadarnya, tetapi mengusung aspek yang lebih dalam dan kompleks dari yang terlihat di permukaan. Selayaknya ‘karya’ seniman di mana aspek komunikatif lebih rendah dan lebih memicu penikmatnya untuk melakukan kontemplasi sendiri terhadap ‘karya’. Kita dapat memahami sebuah poster iklan masyarakat dalam hitungan detik akan tetapi untuk memahami lukisan Picasso mungkin butuh bertahun-tahun, dan bisa jadi justru lebih berupa spekulasi-spekulasi dari pada pemahaman sesungguhnya seperti kita memahami bagaimana itu program Keluarga Berencana melalui billboard BKKBN.

Kemudian dari pemahaman tersebut saya melakukan pembongkaran atas aspek yang ada dalam franchise Kingdom Hearts, dan relasinya dengan filsafat manusia. Akan tetapi juga melalui pemahaman tersebut saya merasa campur aduk terhadap franchise ini. Di satu sisi saya mengagumi keberadaan aspek filosofis yang bisa digali dalam seri fantasi-semua-umur ini namun melihat posisinya sebagai karya sebuah desainer ada sebuah kekecewaan atau kepirhatinan bahwa aspek tersebut kalau tidak disengaja masuk bisa jadi justru sengaja asal ditempelkan untuk membuatnya lebih keren. Akan tetapi pernyataan kekecewaan tersebut membawa saya pada judgment yang tidak sehat. Kalau memang ada aspek filosofis yang bisa digali dari franchise ini maka tidak ada salahnya digali, dan di sini justru posisi menarik dari menikmati sebuah karya.

Ada sesuatu yang tampak sebagai sebuah kesalahan, menyamakan seri Final Fantasy dengan Kingdom Hearts. Saya menyamakan keduanya dengan alasan keduanya ditelurkan dari kelompok yang sama, dan memang Kingdom Hearts pun bisa dilihat sebagai sebuah spinoff dari Final Fantasy sendiri. Mengingat Kingdom Hearts adalah Final Fantasy bertemu Disney, bukan Square Enix (dulu Squaresoft) bertemu Disney.

Perlu saya akui di belakang ini juga kalau saya sendiri sangatlah bukan ahli dalam seri Megami Tensei. Pemahaman saya terhadap franchise tersebut masih dangkal dan saya melakukan generalisasi sebatas pengalaman saya saja.

Harry Potter 7A

Sejujurnya saya cuma mau mengejar satu post per bulan saja dalam mengetik entri ini. Rupanya sudah lewat sebulan sejak saya membuat akun last.fm dan membuat entri yang berkaitan dengannya. Berhubung ini ibarat sinetron kejar tayang maka seadanya saja, sependek mungkin. Membicarakan film anyar yang kalau menurut saya surprisingly good.

Mengutip apa kata teman saya, “film ini yang ngikutin gue sepanjang remaja, wajib tonton yang terakhirnya nih.

Saya tidak mewajibkan menonton film ini, itu pilihan bebas kalian mau menonton atau tidak. Tapi bagi saya bagian pertama dari seri terakhir saga film Harry Potter (yang memang pertama muncul saat saya masih SD, sekarang saya udah kuliah) ini layak ditonton. Keunggulan yang saya akui adalah alur penceritaan yang mengikuti kedewasaan karakter-karakternya. Kalau film-film sebelumnya, sebutlah yang kedua (…and the Chamber of Secrets) yang saya tonton beberapa minggu sebelum film ini rilis di saluran televisi kabel, selayaknya remaja yang masih labil dan terasa lompatan-lompatan dari dan menuju klimaks. Memiliki hentakan yang keras menjelang akhir cerita dan anti klimaks yang membuat kita mengelus dada. Di seri ini justru kita bisa dibuat tegang sepanjang film, mengelus dada sepanjang film, dan tiba-tiba saja credit roll sudah muncul. Sekilas dari apa kata saya di sini film ini terasa membosankan, bayangkan sebuah film tanpa klimaks tetapi ketika menonton saya sendiri mendapati ketegangan yang dulu saya dapat saat membaca bukunya bisa diamplifikasi melalui adegan-adegan film. Keunggulan film ini justru ada di ketidakadaan gejolak antar adegan tersebut. Kalau saya mau mengulang apa kata saya di twitter beberapa hari setelah saya menonton, saya membandingkan film-film Harry Potter sebelumnya seperti membaca komik ringan, komik bergenre shonen mainstream. Film ini justru menyajikan film Harry Potter seperti membaca sebuah komik seinen dengan gaya gambar ala kadarnya, atau kalau bisa lebih baik lagi seperti membaca novelnya.

Tak ketinggalan, saya cukup menyukai poster film ketujuh ini. Gaya yang dipakai dalam poster film ketujuh seolah menggambarkan dan meyakinkan penonton bahwa film ini akan berbeda dengan film-film sebelumnya. Rupanya mereka tidak berbohong (selain soal film ini tadinya akan disajikan dalam format 3D, tapi tanpa 3D pun film ini sudah cukup bagus). 🙂

Menjelang akhir cerita kita bisa menyaksikan sebuah animasi singkat, cerita dalam cerita, mengisahkan The Tale of Three Brothers yang memegang kunci dalam cerita keseluruhan. Perlu saya akui juga kalau saya terpukau dengan animasi tersebut.