Kalau resminya saya sudah menggunakan pseudonim ‘LSS’ di komik berjudul “Karina” yang diterbitkan di kompilasi “Ngabuburit” koloni saat bulan puasa 2009.

Annasophia hanya pseudonim lainnya yang lebih mengena ke nama asli jadinya. Kebetulan jadi mirip dengan aktris Annasophia Robb yang cantik itu tapi bukan karena itu juga sih. Annasophia cuma datang dari penambahan kata ‘sophia’ seperti di philosophia. Wajar lah namanya juga maba, masih euforia di jurusan filsafat. Tapi dirasa-rasa nama Annasophia ini memang bagus juga ya.

020710

Perlu ada beberapa suntingan seiring berjalannya waktu. Saya bisa dibilang sudah bukan maba lagi di jurusan filsafat, tapi entah mengapa masih menggunakan pseudonim tersebut. Biarkanlah untuk sementara waktu. Pada saat tulisan ini ditulis baru saja menyelesaikan proyek kedua, komik “Cermin Putih” yang sudah saya singgung di beberapa entri dan kalau tidak ada halangan sedang dalam masa sunting-menyunting sehingga bila tidak ada halangan akan segera terbit dalam waktu dekat (perkiraan awalnya sih Agustus ini, jadi mari kita tunggu saja). Posisi masih sama seperti di komik sebelumnya, cuma jadi penulis cerita sementara ilustrasi ada di tangan rekan saya (tautan ke halaman DeviantArt ybs bisa ditemui di sidebar). Sehingga di saat masih sibuk sebagai mahasiswa tingkat 2 (meski saat ini masih libur semester genap yang panjang) masih berusaha menyempatkan diri mengurusi komik dan perkomikan.

190911

Sekarang sudah masuk tahun ketiga sebagai pelajar filsafat. Apa saja yang sudah dipelajari? Ternyata “Cermin Putih” masih banyak cacatnya, bikin komik itu sangat-sangat-sangat sulit hampir sama sulitnya dengan menjalani hidup itu sendiri. Berpuluh draft sudah terbuang dan terbengkalai begitu saja selama setahun ini, cuma segenap saja yang bahkan sampai ke telinga rekan saya. Iya, saya masih berdelusi bahwa membuat komik adalah pilihan karir yang baik. Tapi saya masih ragu mengenai status saya sebagai komikus. Kalau lancar seharusnya 1-2 tahun lagi saya selesai pendidikan strata 1, harusnya sudah mulai benar-benar menjadi orang. Sementara sekarang saya mengulang delusi lain, “lebih baik tidak jelas daripada jelas (di mata orang lain)”. Hal jelek yang saya pelajari selama dua tahun di pendidikan ini. Bukan tujuan manusia untuk mendapatkan definisi atas dirinya, tetapi justru tujuan itu adalah mencari definisi itu. Baru terjawab saat mati nanti.

Jadi saya memang tetap (dan tampaknya akan terus) sok kritis dengan segala yang saya alami. Susah sendiri menyikapinya. Saya sempat mengunjungi konselor, dalam satu sesi dia bertanya, “apa yang kamu mau?” Lucunya sebelum sesi ini salah seorang kerabat keluarga menanyakan hal yang sama. Jujur saya enggak tahu, dan memang itu jawaban saya, “enggak tahu”. Tiba-tiba saya menemukan diri saya kehilangan antusiasme, kehilangan minat atas segala, saat diajukan pertanyaan itu yang terpikir justru kematian. Tapi saya tidak mau mati, apalagi bunuh diri. Saya masih mau hidup, saya belum diberi ancaman apapun. Maka saya bilang (ke konselor itu) bahwa, “saya ingin berada di luar”. Dalam bahasa pergaulan kampus saya, “saya tidak terikat dalam lingkaran manapun. saya lepas dari ikatan manapun yang ada di kampus saya.” dan itu yang sudah saya lakukan. Tapi kemudian saya tambahkan lagi (masih ke konselor itu), “saya sudah dapat apa yang saya inginkan, tapi kemudian saya justru gak mau memiliki apa yang sudah saya inginkan itu”. Yah, hidup memang penuh paradoks.

060913

Halaman ini menjadi semacam diari yang diisi tanpa dedikasi, tanpa ketelatenan, dan tentu tanpa jadwal pasti. Sebuah blog mestinya diperbarui secara berkala tetapi melihat halaman perihal ini saja terlihat betapa tidak berkalanya pembaruan di blog ini. Ada semacam kebimbangan tiap kali hendak memperbarui konten blog yang tidak telaten ini. Kebimbangan itu terlihat bukan ketika melihat konten yang hendak ditulis justru ketika melihat ke luar. Apakah ada arti dari memperbarui isi blog yang tidak menunjukkan peningkatan apapun dari penulisnya? Sementara melihat keluar bahkan dari microblog saja terlihat langkah-langkah kecil setiap garis waktu milik akun lain. Sementara milik saya sendiri tidak banyak berubah. Urung memperbarui blog ini ketika terlihat isinya hanya seperti melihat seorang yang berlari di ban berjalan. Dari sana saya menyadari bahwa tercatat sejak halaman ini pertama ditulis, memang tidak banyak berubah.

Maka dari itu di tengah pengerjaan skripsi yang sudah terlalu banyak saya tunda, izinkan saya mengenalkan diri lebih jauh. Di kesempatan yang sudah jauh terlambat ini. Tidak banyak perubahan sejak halaman ini pertama ditulis. Saya masih orang yang sama yang menikmati budaya pop Jepang sejak SMA saya mulai benar-benar menggelutinya. Dari ketertarikan tersebut saya berkenalan dengan orang-orang yang menggiring saya untuk mulai mencoba lebih serius membuat komik, ketertarikan yang sebenarnya sudah bermula jauh sejak SD dan berlanjut di SMP.

Ketertarikan terhadap budaya pop Jepang saya khususkan pada beberapa judul dalam genre, serta subgenre, anime tertentu yang kalau mau dibatasi benar-benar mungkin berkisar pada drama dan slice of life, contoh judul yang dapat saya berikan seperti K-On!, Haibane Renmei, Kino no Tabi. Walau beberapa kali saya juga menikmati misteri dan fiksi ilmiah, cult classic seperti Serial Experiments Lain adalah satu contoh kesukaan saya yang ada di luar genre biasa. Contoh yang lebih kontemporer dari tahun 2012 dapat terlihat saya cukup menyukai anime seperti Shinsekai Yori. Masih ada judul-judul yang bisa saya sebut tetapi biarkanlah untuk menghemat. Berlanjut dari anime, contoh musik yang saya nikmati sekarang ini dari panggung pop Jepang saya dapat mengatakan bahwa saya cukup menyukai Akiko Shikata hingga mengisi sebagian besar playlist musik yang sering diputar. Saya cukup menyukainya hingga merogoh kocek untuk membeli salah satu albumnya, yang meski bukan album terbaiknya saya tetap merasa puas. Ketertarikan saya pada Akiko Shikata berangkat dari perasaan kecocokan ketika mendengar musiknya, tidak lebih. Hanya kebetulan saya mendengar musiknya dari sebuah game PS2 dan saya mendengar musiknya yang lain hingga mengenali lebih dalam musik Jepang yang berada di luar mainstream. Ketika SMA saya adalah penggemar JPop, sekarang kegemaran itu masih tersisa dari bagaimana saya menyukai ryo melalui supercell dan EGOIST. Serta masih dalam jangkauan JPop saya menyukai franchise The iDOLM@STER termasuk musiknya walau belum banyak memainkan gamenya. Musik Jepang lain yang saya nikmati dari genre yang lebih mainstream dapat mencakup Saori Atsumi (musisi yang sempat aktif di pertengahan 2000-an dan baru mulai aktif lagi berapa tahun belakangan, saya belum sempat mendengar lagu barunya) dan KOKIA. Dari genre yang sedikit di luar mainstream saya baru mengetahui Utaite Lily dan karakternya yang menyerupai Akiko Shikata membuat saya menyukainya. Saya menikmati musik di luar musik Jepang walau tidak banyak mengikuti musik kontemporernya, yang paling kontemporer saya mengapresiasi album Linkin Park yang bertajuk “A Thousand Suns” walau belum mendengar album setelahnya. Sementara musisi barat lainnya yang saya nikmati sebatas Bob Dylan di album lamanya serta Pink Floyd beberapa kali saat senggang, saya tidak perlu menyebut The Beatles secara khusus. Kalau mau dikatakan saya menikmati musik seperti saya menikmati tontonan, bagaimana dapat terhanyut dalam musik tersebut dan terbawa ke dalamnya. Saya pernah mengandaikan bagaimana rasanya mendengarkan musik bukan dengan telinga tetapi dengan tubuh dan contoh yang saya berikan adalah bagaimana ketika saya mendengar “Hoshi no Tomoshibi” dalam album “Istoria~Kalliope~” oleh Akiko Shikata. Saya akan menyimpan pembicaraan mengenai film untuk lain kali (dan tentu saja mengenai komik). Sederhananya, saya adalah seorang penggemar pop Jepang yang tidak terlalu serius dan hanya menggemari beberapa aspek saja, dan merasa agak kesulitan untuk keluar.

Saya akan menyudahi pembaruan kali ini sampai sini. Terkait dengan poin terakhir yang saya sebut, mengenai bagaimana saya menikmati suatu karya musik dan film yang baik adalah ketika dapat terhanyut di dalamnya. Belakangan ini saya sedang tertarik dengan tema “immersion” yang diawali dari pembicaraan senggang mengenai video game dan berlanjut pada media lain. Ketertarikan ini ditambah dengan bagaimana saya berusaha mengarahkan topik skripsi yang seharusnya selesai di penghujung tahun. Maka dari itu, saya akan berusaha kembali menulis. Setelah saya merasakan hampir 4 tahun tanpa menulis dan tidak menulis, saya harus kembali. Mungkin kenyataan itu memang ada dalam teks.