Judul entri kali ini adalah sebuah permainan kata.

Di depan permainan kata tersebut, namun, saya yakin terdapat hal yang lebih menarik perhatian. Meski saya juga menyadari bahwa telah terlambat setengah tahun untuk menuliskan dan menerbitkan ulasan ini. Namun sejak pertama saya membaca komik tersebutsaya telah memutuskan untuk mengulasnya. Setelah berkelut dengan satu dan banyak hal, termasuk beragam penundaan, saya berhasil menepati keputusan tersebut. Walau memang sudah sangat terlambat.

Ulasan ini mungkin akan terasa pahit. Namun dengan latar belakang yang saya utarakan dalam paragraf pertama saya rasa telah tergambar bagaimana kritik yang akan saya jabarkan sesungguhnya adalah sebuah apresiasi. Kritik tersebut mungkin memang dipengaruhi oleh kesadaran emosional saya serta bias yang terbawa oleh saya sebagai pengkarya itu sendiri. Namun melewati enam bulan untuk pergi dan kembali serta menulis ulasanpanjang adalah sebuah apresiasi. Saya harap itu dapat diterima sebagai sebuah kebanggaan bahwa betapa pun saya tidak mengenakkan dalam ulasan ini hal itu adalah pembuktian bahwa karya tersebut telah berkerak di kepala saya. Sesungguhnya saya sudah tidak lagi peduli dengan karya tersebut dan bagaimana akan dibawa ke depan namun kepedulian saya terhadap karya tersebut sebagai sebuah karya adalah sesuatu yang lain.

Sebelum memasuki ulasan mohon pertimbangkan sekali lagi, apabila Anda (pembaca) merasa tidak siap membaca ulasan yang panjang silakan lupakan entri ini. Saya akan memoderasi setiap komentar yang masuk dan saya tidak berjanji akan menanggapi keseluruhannya. Akan ada beberapa hal yang saya potong dalam pembahasan untuk menjaga fokus. Saya akan berusaha terbuka andai ada yang berpendapat lain terhadap karya ini dan hendak beradu argumentasi. Namun saya tidak akan mengindahkan komentar flame maupun troll dari fan yang tersakiti. Anda boleh tersakiti namun jangan jadikan itu alasan untuk menyakiti orang lain.

Jika Anda siap membaca sebuah tulisan panjang silakan lanjutkan.

 

Bagian I: Tiap Detik

Sejak “Tiap Detik” pertama kali turun cetak dan naik ke rak toko buku saya telah berusaha membaca, mengikuti pembicaraan orang-orang, dan tentu saja mengulasnya sendiri. Dalam usaha pembacaannya saya merasakan bagaimana sulitnya untuk menahan diri dari meluapkan emosi kemarahan dan melempar komik setebal kurang lebih 200 halaman tersebut. Dengan ilustrasi tersebut dapat terbayang bagaimana saya ingin mengatakan betapa jeleknya–atau mengecewakan–pengalaman pembacaan yang saya alami. Tetapi kini sudah lewat setengah tahun saya mencoba membaca dan mengulasnya lagi. Kesan yang timbul masih tak banyak berubah namun saya mencoba lebih lunak dalam menanggapinya.

Pengenalan komik “Tiap Detik” (versi saya) di bawah ini:

Komik ini menceritakan seorang remaja bernama Teo Rama. Dengan nuansa komedi-romantis yang kuat dengan pengaruh manga diceritakan Teo menyukai seorang gadis bernama Riya Melati. Namun apa daya usaha penembakannya karena suatu kesalahpahaman kecil justru meleset dan diterima oleh teman Riya yang tidak disukai oleh Teo yaitu, Erina Anggrek. Dengan premis tersebut cerita pun berlanjut pada usahan Teo untuk memperbaiki kesalahpahaman sambil tetap mengejar hati Riya.

Tentu saja itu hanya sinopsis singkatnya. Karena pada kelanjutannya “Tiap Detik” menceritakan lebih dari sekadar kesalahpahaman tersebut. Selain mengakibatkan Erina salah paham akan penembakannya Teo pun terlibat dengan geng sekolah yang mengangkatnya sebagai ketua, terlibat urusan keluarga Erina dan bertarung melawan kakak laki-laki Erina, mengambil kerja sambilan dan mendapati teman sekolahnya yang urakan bekerja di tempat yang sama, serta mengintip masa lalu Teo sedikit. Apakah semua itu membuat “Tiap Detik” sebagai komik yang menarik dan layak dibaca? Sama sekali tidak.

“Tiap Detik” bermasalah pada kedua aspek yang membuat sebuah komik biasa dinikmati oleh pembaca komik. Pada sebuah komik yang tidak memiliki gambar yang bagus, menarik, atau berteknik tinggi wajar ketika pembaca mencari pembenaran pada cerita yang menarik atau dapat membuat mereka terhibur dan terpuaskan. Sebagai contoh sebuah komik berjudul “Yuunagi no Machi, Sakura no Kuni” oleh Kono Fumiyo bukanlah sebuah komik yang memiliki kualitas visual yang tinggi tetapi ia dapat memenangkan penghargaan Japan Media Arts. Kono Fumiyo mampu menggunakan media komik yang sederhana untuk menceritakan pengalaman seorang hibakusha–korban selamat bom atom yang dijatuhkan di penghujung Perang Dunia Ke-2–secara emosional. Sementara “Shokugeki no Souma” memang lebih tunduk kepada klise shonen secara cerita namun komikusnya mampu menyajikan representasi makanan yang terlihat menggugah menggunakan media hitam dan putih halaman komik manga–di mana makanan adalah hal terpenting dari cerita yang klise tersebut.

Kedua contoh tersebut tidak dapat mewakili “Tiap Detik”. Komik ini bermasalah pada kedua aspek tersebut, tidak ada yang matang dalam penceritaan maupun penyajian visual. Hal ini yang memancing emosi saya pada pembacaan pertama namun saya masih mencoba untuk lebih halus dalam pembacaan berikut-berikutnya. Kedua contoh tersebut, katakanlah, adalah contoh ekstrim. Tetapi untuk mengatakan “Tiap Detik” berada di bawah titik ekstrim pun tidak cukup, mengatakannya sebagai sebuah rata-rata pun jauh dari cukup.

Untuk mengupasnya secara halus saya dapat mengatakan bahwa secara garis besar premis yang diusung telah memadai sebagai sebuah genre komedi-romantis, spesifiknya pada gaya yang biasa disajikan dalam manga. Terlihat penulisnya cukup mengetahui klise apa saja yang biasa muncul dalam genre tersebut. Tetapi mengetahui dan memahami adalah dua hal berbeda. Apa yang dilakukan penulis adalah mengambil klise tersebut dan memasukkannya dalam cerita tanpa melakukan kontekstualisasi yang sepadan dengan latar yang diambilnya. Mengatakan ini memang terlampau rumit namun mari lihat sebuah contoh pada cerita masa lalu Teo.

Diceritakan Teo memiliki masa lalu sebagai anak bengal yang tidak menghormati institusi sekolah ketika SMP dan gemar bepergian dengan motornya. Saya tidak akan memersoalkan konsekuensi moral dari penulisan latar belakang karakter seperti ini–meski hal ini lebih mudah untuk dijadikan contoh bagaimana rekontekstualisasi tidak diindahkan oleh penulis. Dilihat dari satu aspek penceritaan Teo sebagai mantan berandalan mungkin dimaksudkan untuk menjelaskan kemampuan tarungnya yang tiba-tiba muncul di cerita pertama. Meski pembaca harus melewati 9 cerita terlebih dahulu tanpa mengetahui mengapa Teo dapat bertarung seperti Naruto. Tapi apakah latar tersebut dapat masuk ke dalam cerita secara masuk akal? Diceritakan juga dalam kilas balik itu Teo bertemu Riya dan kemudian bertobat hingga menjadi Teo yang kita kenal sekarang. Penulis terlalu menyepelekan karakterisasi dan berpikir bahwa sebuah tema pertobatan dapat dieksekusi dalam cerita sepanjang kurang dari 30 halaman. Tanpa penjelasan konteks yang jelas pembaca dikenalkan pada sosok Teo yang badung, Teo yang mengingat kenangan adiknya, dan kemudian Teo yang bertobat, keseluruhan tanpa konteks serta penuturan yang elok. Alih-alih memperlakukan karakternya sebagai sebuah pribadi yang menghadapi masalahnya penulis lebih memperlakukannya sebagai sebuah kertas kosong yang diisi sesuai kebutuhannya.

Semua hal yang disajikan dalam “Tiap Detik” adalah klise. Tak cukup dengan menjadi klise dalam konsepnya penulis pun menyajikan visual yang klise dengan kualitas yang tak meyakinkan. Dalam penilaian yang mudah dapat terlihat bahwa penulis memaksudkan gaya yang biasa diasosiakan dengan “moe” sebagai targetnya. Terlihat dari bagaimana desain visual karakter lebih dititikberatkan pada dua karakter utama perempuan, termasuk beberapa perempuan sampingan, sementara protagonis laki-laki dibiarkan hambar. Tetapi untuk membela desain visual karakter Erina dan Riya sebagai manifestasi gaya “moe” pun tampaknya penulis belum benar-benar bisa menerjemahkan gaya tersebut dengan kemampuannya untuk mengilustrasikan komik ini. Dalam konsepnya Erina adalah seorang karakter yang digambarkan memiliki paras cantik, pun itu menggunakan desain yang begitu stereotipikal dengan konsep karakterisasinya, akan tetapi ketika karakter itu dilempar dalam adegan komik terlihat bagaimana tidak matangnya kemampuan penulis. Terlihat dari terbatasnya pose, gestur, ekspresi, serta bahasa visual yang seharusnya memberikan pembacanya pemahaman akan apa yang dilakukan oleh karakter yang mereka lihat. Lebih buruk lagi ketika pilihan gestur yang digambarkan tak jauh dari pose kaku atau klise yang biasa dilakukan dalam genre serupa. Hingga tak akan mengherankan jika sekali lagi terlihat bagaimana penulis tidak memperlakukan karakter sebagai karakter yang dapat berlakon namun sekadar pajangan belaka. Dalam menggambarkan konsistensi karakter saja terlihat bagaimana penulis belum dapat mencapai standar yang cukup dan saya tidak perlu membahas bagaimana inkonsistensi tersebut terlihat dalam penggambaran benda lainnya dalam komik.

Pemanis dalam “Tiap Detik” adalah komedi, lelucon atau humor jika dapat dikatakan lebih tepat. Tentu saja komik ini juga menyelipkan aksi di dalamnya namun terlebih dahulu saya akan mengulas humor yang membuatnya menjadi sebuah komedi-romantis. Sebagaimana dengan konsep cerita dan presentasi visual selera humor yang berjalan dalam komik ini pun tak lepas dari sebuah klise. Beberapa lelucon yang dimainkan oleh penulis di dalam adalah referential joke di mana lelucon dibuat dengan melakukan sebuah referensi terhadap media atau karya lain di luar karya itu sendiri. Dalam bentuk yang ideal kita mengenalnya sebagai sebuah parodi, dalam bentuk yang tidak menarik tawa kita mengenalnya sebagai homage. Referential joke yang digunakan beragam dari referensi terhadap sebuah adegan dalam “Death Note”–yang telah menjadi meme sendiri–hingga lukisan karya Edward Munch.

Permasalahan dengan referential joke adalah hal itu (dapat) menunjukkan usaha penulis untuk tidak membuat lelucon. Referential joke menjadi sebuah lelucon karena ia ada, bukan karena lelucon tersebut dibuat untuk menertawakan sesuatu. Meskipun hal yang dirujuknya belum tentu juga sebuah lelucon. Pembaca dapat tertawa dengan line dari William yang mengatakan dirinya teruji oleh ITB dan IPB–mengacu pada iklan penyaring air minum–namun tawa tersebut adalah karena adanya line tersebut bukan karena iklan tersebut menarik tawa. Penulis tidak berusaha membuat sebuah situasi di mana sebuah line atau adegan menjadi lucu karena adanya sebuah situasi dalam narasi yang membuatnya lucu namun hanya melemparkan hal yang akan membuat pembacanya mengalihkan perhatian pada situasi dalam narasi yang tak relevan. Bahkan sebagai parodi pun referential joke yang digunakan oleh penulis gagal menunjukkan pesan apapun pada karya yang disinggungnya, apakah yang dimaksud dengan menggambarkan Teo dalam atau ekspresi lukisan “The Scream”? Referential joke adalah sebuah komedi dan sebuah komedi sepantasnya memiliki build up serta punch line yang membuat pembacanya merasakan sebuah perasaan lepas yang diekspresikan dalam tawa. Untuk sebuah komik yang membubuhkan genre komedi dalam sampulnya adalah memalukan ketika ternyata penulis gagal membuat sebuah lakon komedi di dalamnya.

Mengesampingkan humor yang tak berasa sepantasnya penulis dapat menyajikan apa yang diumbar dalam sinopsis cerita ini yaitu romantika atau cerita cinta, sebuah drama. Sebagaimana komik ini adalah sebuah klise dalam penyampaian visualnya penulis pun menjaga klise tersebut dalam penceritaannya. Konsep cerita yang dijadikan pondasi adalah klise cerita komedi-romantis a la manga yang sudah berkali digunakan dalam genre serupa: seorang protagonis laki-laki (hambar) terjebak dalam kisah cinta yang melibatkan dua atau lebih karakter perempuan. Tapi tentu penulis tidak membiarkan konsep tersebut berjalan begitu saja, dalam keterlibatan protagonis dengan karakter perempuan lain penulis memasukkan berbagai subplot yang dibuat untuk menggali karakter perempuannya. Tapi sekali lagi penulis tidak benar-benar memahami bagaimana cara menyampaikan sebuah cerita dengan baik.

Saya hendak mengkhususkan pengulasan bagian ini pada subplot karakter Riya dikarenakan subplot karakter Erina telah tersinggung sebelumnya serta sebuah ketertarikan pribadi akan subplot karakter Riya tersebut. Penulis memiliki ide yang menarik disajikan dalam karakter Riya yang digambarkan bertolak belakang dengan Erina. Riya adalah seorang remaja yang cenderung tenang dan baik hati namun ciri utamanya yang dapat diingat dengan mudah adalah bagaimana ia menggunakan kursi roda. Keputusan penulis untuk memasukkan aspek ini dalam karakter Riya menurut saya adalah sebuah hal yang berani dan patut dipuji. Namun betapa mengecewakan ketika keberanian itu ditunjukkan dengan ketidakmampuannya memanfaatkan aspek tersebut sebagai unsur penceritaan yang baik, lebih-lebih jika ingin dikatakan simpatik. Secara sederhana ciri tersebut mungkin dapat dimaksudkan agar pembaca bersimpati dengan keterbatasan yang diderita oleh Riya–serta menaikkan faktor “moe” yang membuat pembaca ingin melindunginya. Namun ketika penulisnya mengembangkan ciri tersebut menjadi sebuah subplot terlihat bagaimana penulis tidak dapat menggunakan ide tersebut untuk menarik sebuah simpati. Justru, dengan mematikan simpati, menggunakan fakta bahwa Riya sebagai orang dengan keterbatasan untuk dilindungi atau dimaklumi. Penulis mencoba menggunakan ciri tersebut untuk memersoalkan bagaimana orang dengan keterbatasan kerap dipinggirkan tapi pada akhirnya tetap terjatuh dalam stigma bahwa mereka pantas dikasihani–dan dipinggirkan. Bermain dengan stigma yang sensitif adalah sebuah kiat yang berani namun keberanian tersebut hendaknya diikuti dengan sensitivitas dan pengetahuan yang memadai untuk menceritakannya.

Pun sekali lagi penulis berusaha menyinggung isu penekanan oleh satu kelompok terhadap satu individu melalui subplot karakter lain penulis masih belum berhasil dalam merepresentasikan isu yang sesungguhnya. Melihat dalam plot lain, seperti plot pertaubatan Teo, pada dasarnya penulis telah gagal untuk benar-benar merepresentasikan sebuah drama. Seolah tak cukup dengan ketidakmampuan tersebut penulis hanya melakukan pengulangan klise dalam genre lagi. Lempar dialog-dialog klise serta dangkal dalam adegan dramatis dan cerita diarahkan sesuai kehendak penulis tanpa mengindahkan peran karakter dalam kisahnya sendiri.

Sampai pada titik ini mungkin bagi yang masih membaca akan memikirkan dua hal, pertama adalah menuduh saya melakukan nitpicking–serta sebagai kelanjutannya mengatakan bahwa komik ini bukanlah selera saya–dan menanyakan apakah poin saya dalam mengulas ini. Untuk menjawab itu saya akan masuk dalam bagian kedua pengulasan. Saya harap bagian kedua ini dapat menjawab kedua pertanyaan/tuduhan tersebut.

 

Bagian II: Kitsch

Saya tidak dapat membela komik ini dalam argumentasi yang dapat diterima akal sehat. Namun untuk mencoba melihatnya secara halus saya dapat melihatnya dari sisi lain. Sisi lain yang lebih masuk akal dalam memandang karya yang dihasilkan atas tuntutan pasar dan alih-alih media ekspresi penulisnya. Saya tidak dapat lagi menghargai karya ini sebagai suatu ekspresi penulis. Sebagai konsekuensinya saya terpaksa menggunakan suatu paradigma lain dalam memandang sebagian besar karya dalam genre maupun media serupa.

kitsch

kiCH/ noun
art, objects, or design considered to be in poor taste because of excessive garishness or sentimentality, but sometimes appreciated in an ironic or knowing way.

Kita perlu menurunkan standar terlebih dahulu dan memandang media komik sebagai sebuah kitsch. Implikasi dari pemahaman akan kitsch tersebut adalah menyadari bahwa media komik, pada hakikatnya, adalah sebuah media yang (masih) berusaha untuk mendapatkan legitimasi menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar produk massal yang nilainya murah. Sehingga pada konsekuensi berikutnya produk massal yang dianggap “seni” tersebut terkadang dapat kita maklumi ketika ia memiliki kualitas yang murah dan sama sekali tak indah–singkat kata komik bukanlah dan tidaklah sepadan dengan lukisan “Mona Lisa” karya Leonardo da Vinci. “Tiap Detik” adalah contoh ketika kesadaran itu dapat muncul dan mengatakannya sebagai sebuah kitsch adalah penilaian paling halus yang dapat saya berikan. Ia berusaha menjadi sebuah karya yang menghidupkan genre (moe) romantic-comedy namun gagal dan dengan seluruh kesadarannya tahu bahwa ia tidak dapat mencapai itu. Bukanlah sebuah ironi ketika kitsch dapat diidentikkan sebagai “seni” sampah juga.

Dalam usahanya tersebut sangat disayangkan apa yang dilakukan oleh penulis pun tidak menunjukkan kemampuan maupun orisinalitas yang memadai. Memandangnya dari segi lain “Tiap Detik” adalah sebuah pastiche–sebuah karya yang dibuat dengan mencampuradukkan aspek-aspek karya yang telah ada sebelumnya–dari genre yang tampak begitu dipuja oleh penulisnya. Premis dasar tentang sebuah protagonis laki-laki (hambar) yang terlibat dalam cinta dengan lebih dari satu karakter perempuan adalah premis yang dapat kita temui dalam seri genre yang sama seperti “To Love Ru”, “Nisekoi”, serta seri “Monogatari”–singkat kata, serial harem. Karakter Erina adalah stereotipe tsundere yang telah berkali kita lihat dalam manga ditambah dengan kompleks yang dimiliki dengan kakak dan ayahnya. Karakter Hima adalah penambahan stereotipe kuudere yang mentah dan dengan mudah dipelintir menjadi anggota harem Teo lainnya. Karakter Riya gagal merepresentasikan isu yang dialami oleh karakternya. Pun adegan pertarungan yang mendadak muncul dapat kita lihat secara jauh lebih baik dalam seri shonen battle manga yang lebih matang, misal adegan pertarungan Gaara melawan Rock Lee dalam ujian chuunin di komik “Naruto”.

Pastiche dalam media dan genre ini bukanlah hal jarang, bukan pula hal yang jelek. Desain karakter Naruto dengan rambut pirang dan pakaian oranye bisa jadi mengingatkan kita pada Son Goku sebagai ikon generasi pendahulunya. George Lucas membuat pastiche yang paling dikenal oleh generasinya dan meninggalkan dampak kultural yang masih menggema hingga sekarang dengan “Star Wars”. Pastiche bukan hal yang jarang dan bukan juga sesuatu yang serta merta jelek. Namun apa yang dibuktikan oleh “Tiap Detik” adalah menunjukkan bagaimana kemampuan yang tak matang dapat membuat pastiche menjadi sesuatu yang memalukan. Sehingga menyadarkan kita bagaimana pada dasarnya media komik, khususnya komik ini, adalah sebuah produk massal, produk era modern, era kapitalisme, yang sesungguhnya tak memiliki rasa atau untuk memudahkannya: sebuah kitsch.

Menyalahkan kapitalisme membawa kita pada faktor ekstrinsik yang membuat komik ini, pihak penerbit. Sesungguhnya menyalahkan keseluruhan pada karya serta penulis adalah sebuah ketidakadilan–karena tidak menutup kemungkinan bahwa komik ini dapat terbit dengan kualitas ini dikarenakan adanya manajemen yang kurang baik. Pada mulanya saya berusaha membatasi pembatasan pada karya, tepatnya pada faktor intrinsik yang membuat karya tersebut. Tetapi kini faktor kultural telah tersinggung maka saya akan menyinggungnya sedikit. Opini yang biasa beredar mengenai komik ini juga adalah pertanyaan bagaimana editorial dapat meloloskan komik ini untuk ke percetakan. Sebagai sejarah singkat pada mulanya komik ini adalah sebuah komik amatir yang diterbitkan dalam platform situs–ngomik.com–dan karena popularitasnya penerbit memberi kesempatan pada penulis untuk membuat versi cetaknya. Dengan pertimbangan ini wajar jika penulis tidak menolak kesempatan tersebut. Saya tidak pernah memfamiliarkan diri dengan versi daring dari komik ini namun dari apa yang saya tahu tidak ada perbedaan antara versi daring dan versi cetak. Sungguh jika kesalahan dapat dibagi maka editorial seharusnya berkaca pada pengalaman ini untuk memperbaiki kendali kualitas mereka. Kapitalisme tidak dapat terus dijadikan kambing hitam, kapitalisme telah mengajarkan kendali kualitas.

Pelajaran bagi penulis adalah untuk menilai kembali karyanya. Saya tidak menghalangi hak penulis untuk menyombong–apalagi untuk berkarya–tapi saya mengkritisi karyanya serta kemampuannya untuk membuat karya yang pantas dibanggakan. Kualitas gambar tersebut mungkin diterima dalam lingkar situs daring tersebut serta pembaca biasa yang tidak akan kelewat kritis. Tetapi kini karya tersebut tidak lagi dibatasi pada audiens situs tersebut. Komik ini tidak sepatutnya lagi dibuat dengan kualitas seperti komik yang dibuat di sela jam pelajaran. Menyandingi karya ini dengan komik sungguhan yang telah didera berbagai macam editorial dan kritisisme di pasar adalah sebuah penghinaan bagi komik lainnya itu. Komik ini tidak lagi dibuat untuk sekumpulan teman penulis saja, tapi juga untuk para pengkritik–maka sepantasnya juga ia layak dikritisi dengan tajam, hanya di sini ia pantas disandingkan dengan karya lainnya yang lebih kompeten. Beruntung penulis masih memiliki fans setia yang memungkinkan keberlanjutan karya. Namun jangan jadikan itu sebagai jaring pengaman dan pembenaran untuk membuat karya yang setengah jadi seperti ini di kesempatan berikut.

Kendati pun saya mengatakan bahwa komik ini adalah sebuah sampah saya tidak menilai bahwa itu akan mendefinisikan karyanya ke depan. Sebagaimana saya mengatakan pada hakikatnya komik adalah sebuah, ironisnya, sebuah kitsch, saya pun merasa bahwa apresiasi terhadap komik telah berubah seiring waktu. Sebuah komik sederhana, atau dalam bahasa kelompok penikmat komik ini disebut tidak “moe”, dapat menceritakan pengalaman emosional akan karakter hibakusha. Begitu pun komik Indonesia yang kini telah berbeda dengan 6 tahun lalu ketika saya baru berkenalan dengannya. Apresiasi terhadap komik Indonesia di kalangan populer telah berubah dan sedikit demi sedikit komikus lokal telah berusaha membuktikan bahwa karyanya dapat dipandang lebih dari sekadar produk massal era modern. Kitsch tidak menjadikan sebuah karya menjadi jelek, ia hanya membuat sebuah karya dipandang lebih rendah secara nilai dari karya seni tinggi seperti lukisan “The Scream” yang disinggung penulis dalam karyanya. Segelintir komikus menyadari hal ini dan mereka pun berusaha mematahkan stigma tersebut dengan memberikan investasi serta pemikiran yang mendalam dalam membuat karyanya. Namun ketika di salah satu sudut toko buku saya menemukan komik seperti ini masih mendapatkan apresiasi yang tak pantas dengan kualitasnya, di sana saya berpikir bahwa komik pada hakikatnya tetaplah sebuah kitsch dan usaha komikus yang berusaha keluar dari kutukan tersebut akan mendapati usaha mereka sia-sia.

Iklan