Sudah lama sejak menulis di sini. Marilah tinggalkan saja segala keluh kesah dari satu tahun yang dilewatkan di blog ini dan lakukan apa yang bisa dilakukan: menulis. Ya, beberapa tulisan yang harusnya dikerjakan seperti skripsi misalnya. Sebelum itu dari satu tulisan di sini akan coba mulai memperbarui blog ini kembali. Tidak akan rutin, mungkin.

Tulisan sekembalinya di blog ini saya ingin menyebut beberapa film yang ingin saya tonton. Saya bukan penggemar film akut tapi menikmati film cukup menjadi obsesi penghibur tersendiri dalam upaya melarutkan diri dalam media yang ditonton. Pembahasan lebih mendetailnya akan saya abaikan saja dan langsung masuk ke dalam tujuan. Perlu diperhatikan saya belum menonton semua film yang akan saya sebutkan, maka dari itu judulnya “ingin ditonton”, tapi saya akan menyertakan beberapa poin menarik dari trailer dan ulasan yang membuat saya ingin menontonnya đŸ˜€

Kebanyakan film yang akan saya sebut adalah film-film yang relatif sulit diakses oleh saya. Apakah itu karena tidak, atau kecil kemungkinan, dirilis di layar lokal atau hambatan teknis untuk mengunduhnya bila harus demikian. Jadi jangan harap akan menemukan judul seperti The Hobbit: Desolation of Smaug karena film seperti itu otomatis pasti saya akan menjajalnya.

Blue is the Warmest Color

Disutradarai oleh nama yang tidak saya kenal, tentu, Abdellatif Kechiche. Memenangkan penghargaan tertinggi di festival film Cannes memberikan sedikit tambahan alasan kenapa saya ingin menonton film ini. Saya sendiri bukan tipe yang menjura pada festival film yang kalau menyebut namanya di kalangan tertentu akan memperkuat label hipster tapi memercayakan diri pada ulasan tertentu cukup bisa dijadikan alasan. Sebelum berita penghargaan Cannes diumumkan film ini sudah cukup malang melintang di pemberitaan internet dan saya tertarik pada tema lesbianisme yang menjadi ceritanya. Cukup itu alasannya maka yang menjadi alasan adalah tema lesbianisme tersebut. Saya sendiri baru menjajal cuplikannya saat hendak menuliskan tulisan ini dan saya tidak akan banyak membahas aspek teknis yang bisa dijadikan alasan.

Singkatnya, lesbianisme yang menjadi tema menarik perhatian saya.

 

Kaze Tachinu

Hayao Miyazaki dan Ghibli sudah cukup menjadi alasan. Persis karena dua alasan itu pula ketika melihat cuplikannya saya tertarik untuk menonton film ini. Mengenai tema yang menarik endiri masih terasa cukup kabur namun tampaknya berkutat pada Jepang abad 20, dan bagi sudut pandang Amerika mungkin akan cukup menarik. Jepang bukan negara yang begitu disukai dengan banyak reputasi baik pada zaman itu. Ketertarikannya pun menjadi bagaimana Ghibli menyajikan sebuah narasi pinggiran sebagaimana telah menyajikan Hotaru no Haka sekitar lebih dari 2 dua dekade lalu.

Versi singkat, narasi pinggiran dan Hayao Miyazaki.

 

I Declare War

Saya akan mengabaikan lebih banyak lagi aspek teknis dan siapapun di-belakang-layar. Yang menarik dari film ini adalah idenya yang sederhana dan konyol mengenai permainan anak-anak. Sebagaimana anak-anak melewati fase peniruan dalam proses pendewasaan mereka film ini memainkan aspek tersebut dan menjadikannya nyata. Permainan perang-perangan anak kecil yang dimainkan dengan ranting kayu, batu, dan properti ala kadarnya dimainkan dalam film menjadi sesuatu yang nyata. Mungkin terasa sebuah ironi di sini dan itulah yang membuat saya tertarik. Bagaimana ide tersebut memunculkan rasa dan pertanyaan mengenai ketika anak-anak bertingkah seperti orang dewasa. Oh, dan tolong kesampingkan film kartun di saluran Cartoon Network terlebih dahulu.

Versi singkat: saya merasakan sebuah komedi dan ironi dengan bumbu nostalgia.

 

About Time

Dari melihat cuplikannya saya menebak dan tebakan saya benar, sutradaranya adalah yang menyutradarai Love Actually yang saya dibuat terpaksa menonton karena satu kejadian tertentu. Bukan saya tidak menyukainya memang bukan film yang bagus dan menggetarkan, bukan pula sebuah drama yang menyentuh hati seperti 50/50 atau sebutlah animasi Makoto Shinkai. Ada sebuah hiburan sendiri yang dapat dinikmati dan begitu pula film ini. Dari cuplikan yang ada selain mendapati nuansa drama percintaan standar dan Love Actually terdapat pula nuansa Butterfly Effect namun minus thriller. Ekspektasi saya tidak akan begitu besar seperti saya mengharapkan sebuah getaran jiwa apabila sempat menontonnya namun sebuah hiburan bukan sesuatu yang bisa diharapkan.

Versi singkat: drama ringan dengan bumbu fantasi yang tipis.

 

The World’s End

Bagian ketiga dari trilogi Cornetto oleh Edgar Wright yang sudah rilis dan tampaknya sang sutradara sudah memfokuskan perhatian pada proyek Ant-Man dari Marvel. Saya menonton film sebelumnya, Shaun of the Dead, secara tidak sengaja dan memang tidak dapat dikatakan bahwa saya menikmatinya tetapi sebagai sebuah komedi memang itu adalah sebuah penyajian yang segar. Saya belum menonton film pertamanya, Hot Fuzz, konon tidak banyak berbeda gaya komedinya. Jarang saya menikmati komedi dan gaya komedi dalam Shaun of the Dead, serta bisa saya harapkan di film ini cukup membuat saya tergelitik.

Singkat: komedi yang segar dan trilogi Cornetto.

 

The Fifith Estate

Saya tidak banyak menaruh peduli mengenai Assange dan balada Wikileaks-nya, bahkan membuka situsnya saja belum pernah. Filmnya sendiri malang melintang di pemberitaan dari yang mengekor kontroversi aslinya hingga tendensi mengkapitalisasi kisah Assange itu sendiri. Yang mestinya lucu serta ironis kalau mau disambung-sambungkan. Konon Assange sendiri tidak terlalu mendukung film ini dan biarlah satu orang berkata apa. Cuplikannya sendiri terlihat tipikal dan mengantarkan premis serta film dengan baik, bukan cuplikan yang bisa dikata baik. Maka apa yang menarik dari film ini?

Yang menarik adalah Benedict Cumberbatch sebagai Assange, saya baru menemukan itu dan cukup meyakinkan untuk membuat saya ingin menonton film ini. Dari Holmes, Khan, dan di akhir tahun ini Smaug, karakter vokal Cumberbatch adalah keindahan tersendiri bagi telinga dalam sebuah media yang didominasi oleh penyajian visual.

 

The Lifeguard

Dari film-film yang sudah saya sebut sebelumnya film satu ini yang paling baru saya dengar. Ketertarikan pertama ketika mendengar tentang film ini adalah Kristen Bell, saya bukan fans yang bisa dikatakan setia dari pertama melihatnya di serial Heroes namun sebutlah nama dan penampilannya cukup terpatri di ingatan saya. Ketertarikan kedua adalah premis yang tampak akan disampaikan dalam film ini. Bell berperan sebagai seorang perempuan berusia 29 tahun yang dengan segala keluh kesah usianya memutuskan untuk mengulang hidupnya di kampung halaman. Di sana ia menjalani hidup baru sebagai penjaga kolam renang, bertemu teman lama, keluarga, dan seorang remaja. Hmm.

Singkatnya, drama percintaan dengan kondisi kesenjangan usia dan Kristen Bell.

 

Oh, bicara kesenjangan usia dan percintaan. Terkait film terakhir mungkin bisa memeriksa film yang sudah rilis bulan Mei lalu di Jepang sana:

Kotonoha no Niwa

Sudah dirilis, dan saya sudah menontonnya, dan sejauh ini film yang membuat saya bergetar dari semua film rilisan tahun ini yang sudah saya tonton. Pacific Rim dapat disebutkan setelahnya. Memang salah bila saya menyebutkan di sini tetapi saya ingin menontonnya lagi, kali ini saya berharap bisa menontonnya di layar lebar atau memiliki Blu-Raynya sekalian. Memang ada yang mengatakan sihir Shinkai di film ini tidak sekuat 5cm/second, dan banyak yang mengabaikan Hoshi wo Ou Kodomo padahal menurut saya itu salah satu pencapaian Shinkai setelah 5cm/second yang tidak dapat dilewatkan. Bagi saya keunggulan Kotonoha no Niwa dari 5cm/second adalah kematangannya. Pencapaian teknis tidak akan saya bahas tetapi bagi saya film ini lebih matang sebagai sebuah drama dibanding 5cm/second yang banyak dijura orang, dalam film ini tidak terasa sebuah dimensi personal, yang bagi orang menguatkan 5cm/second, tetapi terlepasnya perasaan itu membuat film ini lebih matang sebagai sebuah karya yang hanya disampaikan kurang dari 50 menit.

Singkatnya: Kana Hanazawa Makoto Shinkai dengan karya terbarunya yang memanjakan mata dan penceritaan yang ringan namun mengikat.

Iklan