Kalau berapa hari ini heboh mengenai intoleransi di Indonesia. Coba saya berangkat dari sana untuk catatan kali ini. Ada serangkaian hal yang ingin saya tuliskan, meski baiknya saya tuliskan di dalam Microsoft Word saja. Rangkaian kejadian yang harusnya sudah saya tulis sejak satu bulan yang lalu tapi menyambung juga ke berapa tahun yang lalu, cakupannya hingga ujung semesta imajiner sekalian.

PERINGATAN: Tulisan ini relatif panjang.

Suatu hari 13 April 2012…

Sebulan lalu lebih berapa hari sebuah seminar diadakan di kampus saya. Singkatnya bisa dilihat di foto tersebut. Ringkasan singkatnya mengenai seminar yang saya sempatkan diri untuk datang tersebut, kurang lebihnya begini: dari 4 pembicara yang tertera, pembicara keempat berhalangan hadir. Menurut info sepintas dari teman saya dari 4 pembicara yang ada justru orang ini yang “agak moderat” tapi tak saya ambil perhatian juga soal itu. Karena sedari awal memang saya dan teman sejurusan punya niat datang hanya untuk melihat saja, tidak ada niatan mendebat. Saya sendiri datang untuk cari guyonan saja. Alasannya? Bisa diterka.

Pembicara pertama dan ketiga (sesuai urutan di baliho, urutan saat seminar seingat saya agak berbeda) terlihat sangat berat dalam menolak liberalismenya. Pembicara dari INSISTs mengurai sejarah liberalisme dan secara sepotong melakukan misinterpretasi terhadap kutipan anyar dari Nietzsche. Pembicara ketiga justru membawa pembicaraan menjadi sindiran ad hominem pada beberapa tokoh masyarakat yang sedang naik daun di kalangan liberalis, atau sekularis, atau setidak-tidaknya membuat golongan yang berbicara di sini gerah. Mengundang gelak tawa dari sebagian besar peserta seminar yang duduknya dipisah akhwat dan ikhwan, sebagian besar akhwat dengan hijab masing-masing dan ikhwan berwajah adem. Pembicara kedua memberi ulasan yang lebih menarik, setidaknya buat saya yang ada di sana saat itu, dengan membahas “bahaya” kebebasan berpikir dalam kelas pembelajaran agama di perguruan tinggi (spesifiknya ya Universitas Indonesia ini). Dari ketiga pembicara yang sudah tersedia jelas posisinya seminar ini adalah menolak liberalisme, sudah cukup jelas dari balihonya kan? Membahas liberalisme dan anti-liberalisme sudah jadi bahasan yang lazim, saya enggak mau habisin waktu saya di sana. Lagipula bukan ranah saya juga.

Sebaris kalimat yang menarik dari premis acara ini ada dalam bagaimana mereka menolak liberalisme melalui penulisan tagline di baliho tersebut. Terbesit ketika membacanya adalah makhluk ini:

Makhluk hitam lucu yang karakternya bergerak-gerak sama lucunya di anime Tengen Toppa Gurren Lagann itu. Ceritanya ras anti-spiral ketakutan dengan energi spiral yang memicu evolusi makhluk spiral terus menerus akan membawa ke, mudahnya, kehancuran dunia. Maka golongan yang menekan laju liberalisasi pemikiran Islam di seminar itu seperti ras anti-spiral yang menekan diri mereka sendiri, menekan energi spiral, untuk menghentikan laju evolusi pemikiran dalam Islam. Isu mengenai ijtihad dalam pemikiran Islam seharusnya bukan hal yang masih segar dalam pembahasan pemikiran Islam, saya sendiri enggak familiar. Kuliah filsafat Islam itu salah satu kuliah paling membosankan. Golongan penggagas seminar itu amannya hanya menolak liberalisme yang mereka pikir adalah pembebasan dari aturan saklek agama mereka, lupakan agama dan blablabla pokoknya liberalisme itu berbahaya karena ketika pelajar agama berpikir bebas dan tidak dituntun atau mengikuti kaedah keagamaan yang diakui oleh si pendidik maka liberalisme berbahaya. Bicara soal ijtihad, seringkali juga ijtihad yang enggak populer di kalangan mereka akanlah dicap sesat. Tapi mungkin hari itu saya masih harus bersyukur karena seminar berjalan adem meski saya dan teman sejurusan sudah kayak kompor mledug di barisan belakang. Cuma sekedar tawa saja, malas mengangkat batu.

Ormas yang Bebas

Menyambung dari soal ijtihad yang enggak mainstream, bukan ijtihad hipster maksudnya, catatatan berlanjut ke isu yang lagi anyar sekarang: Toleransi, kalau bukan FPI dkk. Berawal dari pembubaran paksa diskusi buku Irshad Manji di Salihara yang tadinya saya niatkan datang tapi enggak jadi. Sebenarnya kejadian ini bukan yang pertama juga seperti yang sudah diketahui. Ormas Islam selama beberapa tahun terakhir sudah jadi momok tersendiri baik untuk masyarakat yang adem ayem apalagi yang doyan pesta pora atas nama kebebasan dan toleransi. Saya sendiri termasuk yang gerah juga dengan ormas, sekedar membaca berita saja. Tanpa jelas pastinya pertama kali saya mulai gerah dimulai dari yang terdekat dengan saya adalah perkara penurunan patung di daerah Bekasi itu, diikuti hal serupa di daerah Jawa sana termasuk patung Buddha di atas Vihara di Sumatera. Terlepas dari ormas, gelombang Islamisasi sendiri sudah bikin saya gerah, sama gerahnya dengan harus mendengar suara toa masjid yang kelewat kencang dengan treble yang menyaingi orkes dangdut. Kembali soal ormas Islam dan intoleransi dari insiden yang menimpa Salihara pantauan saya berikutnya adalah hal serupa terjadi di Yogyakarta, di sana bedah buku digelar oleh LKiS. Kejadian di sana lebih lengkap karena juga mengandung vandalisme serta kekerasan fisik.

Kalau mau disambungkan dengan penggelar seminar sebelumnya, gak nyambung-nyambung banget memang. Mereka mungkin sama-sama sulit menerima liberalisasi atau liberalisme tersebut. Ormas ini merasa definisi mereka atas Islam sudah pasti dan definisi lain itu salah. Kemiripannya ya di ketidaksediaannya membuka dialog “bebas” untuk mengembangkan definsi tersebut. Definisi buat mereka enggak kontekstual, buat mereka itu cukup tekstual saja menurut kata kitab atau kyai mereka. Tekstual atau serupa ya leksikal ibaratnya kitab suci itu ensiklopedi atau kamus. Bagus sih kalau tekstual, asal bukan mengikuti pesanan aja tekstualnya. Kakak saya pesan sayap ayam saja masih bisa dikasih paha ayam di restoran.

Alasan untuk Toleran

Mengenai toleransi dan intoleransi, ada sebuah adegan dari film yang baru saya tonton ini.

Film lokal baru ini membuat saya sedikit lebih lega menonton bioskop yang mesti diisi dengan film lokal. Setelah harus memacu adrenalin di ‘The Raid’ dan dibuat menggaruk dagu oleh Joko Anwar dalam ‘Modus Anomali’, film berikutnya ini lebih halus. Buat saya pribadi iringan musiknya yang bisa membuat penonton merasa terbuai oleh cerita yang sederhana namun dialognya cukup bagus relevan dengan cerita dan latar yang diambil. Yah, enggak sesederhana itu juga sih ceritanya…

“How can a daughter from a religious school cope with her transvestite father?” 

Mungkin itu yang bisa dijadikan pertanyaan dari premis film ini. Adegan yang menarik adalah (minor spoiler) keputusan Cahaya untuk melepas jilbabnya ketika telah bertemu ayahnya yang seorang banci. Keputusan ini didasari agar dapat lebih nyaman berbicara dengan ayahnya. Seorang anak 19 tahun dari latar belakang beragama, relatif dengan ayahnya yang tidak, dapat bertoleransi kepada ayahnya untuk melepas jilbab agar ayahnya bisa tidak lebih canggung. Singkatnya agar hubungan mereka sebagai ayah dan anak bisa lebih cair. Lebih jauh lagi nanti spoiler. Kalau dilihat dari kacamata ormas atau penggagas seminar itu mungkin ini semacam toleransi ngaco karena Cahaya dipandang harus menurunkan standar moralnya yang sudah agung dengan memakai jilbab tersebut. But she’s not that saintly eh..?

Aside from that this film captures the Jakarta’s night life pretty well, with an interesting perspective of course.

Sebagai penutup. Saya mau membahas film lagi, film yang lebih heboh dalam beberapa minggu terakhir ini. Iya, film superhero teranyar berjudul ‘The Avengers’ itu. Syukur-syukur saya sempatkan diri nonton di IMAX yang besarnya gak sebesar IMAX beneran (menurut informasi dari kenalan saya yang nonton bareng saat itu). Tidak ada korelasi antara IMAX dengan yang mau saya bahas dari film ini.

The Problem with Tony Stark

Film team-up superhero dari Marvel Studio ini di luar dugaan bisa lebih appealing dibanding film-film pendahulunya. Asumsi saya film ini cuma bakal jadi film fanservice saja, tapi ternyata asumsi saya enggak salah dan mereka memberikan itu dengan baik. Tujuh superherp dari 4 film pendahulu plus 3 superhero lain yang main kameo di keempat film itu bisa dipadupadankan dengan baik. Tapi yang menarik buat saya adalah konstelasi karakternya.

Saya lepaskan tafsiran ini dari sumber asli yaitu komiknya, tapi ada masalah dengan Tony Stark di dalam film ini. Perseteruan Tony Stark dengan Steve Rogers adalah yang menarik, dan buat saya masalahnya memang ada di Stark. Dikaitkan dengan apa yang sudah saya bahas sebelumnya, kalau dirasa terlalu berat terlihat ketidaksukaan saya terhadap kaum fundamentalis, konservatif, fanatik, anti liberalisme, dan/atau religius. Masalah dengan Stark bagi saya adalah kebalikan dari ketidaksukaan saya terhadap golongan yang sudah disebut sedari awal itu. Dari 4 superhero beneran di dalam tim Avengers dalam film kali ini, Stark adalah yang paling kontemporer (kalau bukan posmo). Ego Stark menjadi masalah, seperti telah disebut sebelumnya dalam epilog film ‘Iron Man 2’, seperti masalah ketika kebebasan atas nama kebebasan seperti kebablasan. Apabila 6o-an tahun lalu Captain America berperang melawan NAZI dengan alasan yang sama, kebebasan, di sini kebebasan Captain America dibuat “lebih bertanggung jawab” dengan sifat bawaan tentaranya. Di sini ada kebiasan saya, saya sejalan dengan kebebasan namun apabila Stark dalam film ini adalah penggambaran masyarakat yang mendambakan kebebasan atas nama kebebasan (+ego) maka saya menolak. Saya bisa memilih untuk membuang bawaan anarkis saya dan mengenang pendapat Watsuji Tetsuro bahwa negara adalah bentuk institusi etika tertinggi.

Namun dengan negara yang sekarang absen saat ada kelompok yang dilarang beribadah, apakah saya bisa memercayai anggapan Watsuji tersebut? Tidak. Tameng Captain America belum bisa digunakan, topeng Guy Fawkes masih lebih sesuai untuk negara yang diperintah oleh orang kacau seperti negara ini.

Foto dari ponsel saya, terunggah di instagram. Gambar lainnya diambil dari wikia Gurren Lagann, wikimedia, dan majalahepik.com dengan ulasan mengenai film “Lovely Man”.

Iklan