Jadi ceritanya saya baru membuat akun last.fm beberapa minggu lalu. Sedari pertama saya membuat saya agak bingung dan hanya terpikir untuk menambah satu nama ke dalam library akun saya. Maka jadilah itu akun kosong selama beberapa minggu, sekarang saya baru saja mengunduh scrobbler dari situsya langsung. Fungsinya? Mensinkronisasi aktivitas pemutar musik di komputer saya dengan akun last.fm saya itu.

last.fm

Jadilah saya ingin mengupdate sedikit tentang 18 artis yang berdiri di urutan 18 teratas library saya itu. Jelas ini sangat subjektif dan saya cuma mau bercerita soal bagaimana saya berkenalan dengan karya artis-artis tersebut dan bagaimana kesan saya, mungkin, ke depannya. Jadi santai saja lah 🙂

18. maliq & d’essentials

Grup musik satu ini buat saya stigma-nya sangat SMA banget. Mungkin karena musik-musiknya paling sering saya dengar semasa SMA dan kebetulan juga mereka yang mengisi acara di prom night SMA dulu. Buat saya yang jarang–lebih tepatnya malas–datang ke sebuah pagelaran musik jelas kesempatan malam itu adalah kesempatan sekali seumur hidup buat langsung menyaksikan grup musik kesukaan saya di masa itu. Lirik-liriknya memang banyak yang melankolis, bicara soal cinta, mulai dari yang tak berbalas sampai yang bisa dipakai untuk melamar pasangan hidup. Pada satu lagu bisa terasa memiliki perspektif akan cinta yang dewasa tetapi di kebanyakan lainnya saya justru mendapati masih naif dan membuat saya semakin merasa ini seperti khas anak muda bicara cinta sekali. Bukan jelek, justru terkadang kita butuh kenaifan untuk mengingatkan betapa sederhana dan indahnya hidup kalau tidak dibawa susah. Belakangan saya sudah jarang dengar, kecuali untuk beberapa lagu yang lebih baru misalnya saja “Mata, Hati, Telinga” dari mini album berjudul sama (yang terbit setelah saya lulus SMA). Lagu itu meski masih berbicara cinta, membuat sebuah perspektif yang lain dibanding lagu-lagu sebelumnya.

17. Gumi (Megpoid)

Saya agak susah mau membicarakan “artis” satu ini, karena seperti yang bisa diketahui. Artis satu ini bukanlah manusia, cuma sebatas vocal synthesizer. Saya pernah membahas mengenai artis ini di salah satu entri saya bulan Mei lalu. Kali ini saya akan lebih membahas soal ke-“artis”-annya sendiri. Sebagai sebuah vocal synthesizer Gumi mengambil basis suaranya dari artis negeri sakura lain yang sudah cukup memiliki nama di dunia musik sana, Megumi Nakajima. Saya sendiri justru tidak tahu banyak soal basis suaranya ini. Saya leih sering mendengar Gumi pun sebatas alasan karena saya lebih dulu tahu dan lebih dulu mendengar soal Gumi ketimbang Megumi Nakajima sendiri, ironis memang rasanya. Sebagai seorang Vocaloid ketenaran Gumi mungkin masih kalah oleh Hatsune Miku yang lebih sering terdengar namanya tetapi buat saya Gumi memiliki suara yang lebih manusiawi dan nyata dibanding Hatsune Miku itu.

16. YUI

Yah, pendengar J-Pop saya rasa hampir pasti akan tahu tentang penyanyi satu ini. Dulu pertama saya mendengarnya saat SMA, awal-awal saya mulai mendengar musik dan itu diawali oleh J-Pop, imej saya tentang dia adalah seorang vokalis cewek bergitar. Tembang pertamanya yang saya dengar “Tokyo” memiliki nuansa yang sedih, tetapi saya belum menaruh banyak perhatian. Baru setelah saya mendengar “Life” yang dipakai untuk sontrek anime Bleach, tembang ini memiliki nuansa yang lebih menggebrak jelas dibanding sebelumnya, barulah saya lebih penasaran. Mungkin karena terasa unik bagi telinga hijau saya saat itu, bagi seorang cewek berparas ayu dengan lagu mendayu di “Tokyo” kemudian menggebrak dengan “Life”. Sejak saat itu saya menjadi pendengar setianya, tanpa sadar mungkin berulang kali tembangnya diputar entah di iPod saya atau komputer saya terus-menerus hingga bertahun-tahun saya terus mendengarnya. Saya agak menyayangkan hanya sau albumnya yang resmi dirilis di Indonesia, album keduanya “Can’t Buy My Love”, saya sempat berharap album setelahnya  akan dirilis resmi juga di Indonesia. Tapi tampaknya tidak, agak disayangkan memang untuk penyanyi Pop yang memiliki suara khas meski mungkin aransemennya tidak akan terlalu menghipnotis. Setidaknya buat saya yang lebih sadar tentang suara dibanding nada.

15. Angela Aki

Pertama kali saya dengar di channel Animax, dulu masih SMA juga, masih awal-awal mendengar musik dan masih ada di ranah musik Jepang juga. Saya sendiri lupa tembang apa yang saya dengar itu. Karena setelah saat itu saya tidak pernah lagi mendengar tembang-tembangnya, baru setelah sekitar setahun yang lalu saya iseng-iseng mencoba membeli albumnya yang kebetulan ada terbitan resminya di Indonesia. Album yang saya beli itu diberi nama “Answer”. Jangan terlalu filosofis karena toh album ini tidak memberi jawaban apa-apa, selain membuat saya teringat kalau dulu saya pernah mendengar artis ini yang memiliki paras dewasa dengan suara yang sebanding dengan tampilannya. Musik-musiknya yang saya ingat kebanyakan dihiasi suara piano karena imejnya juga yang sering ditempelkan dengan piano. Saya pribadi tidak menemukan keunikan yang membuat saya sampai benar-benar merasa artis ini begitu distinct dengan artis lainnya tetapi perlu saya akui vokalnya yang halus sering saya gunakan sebagai pengantar tidur kalau saya putar di iPod saya.

14. Marié Digby

Dibandingkan artis-artis yang sudah saya cantumkan di atas, pengalaman saya sama yang satu ini masih sangat baru. Saya agak lupa kapan pastinya tapi jelas saya mendengarnya selepas saya lulus SMA. Saya pertama dikenalkan oleh kakak saya yang database lagunya jauh lebih beragam dibanding saya dan jelas lebih banyak, pertama dia menyuguhkan saya albumnya yang sepenuhnya berisi lagu-lagu berbahasa Jepang. Karena memang ternyata artis yang awalnya tenar dari youtube ini memiliki keturunan Jepang dan diberkahi kemampuan untuk berbicara bahasanya juga ternyata. Album “Second Home” yang berisi lagu-lagu berbahasa Jepang itu lebih banyak diisi lagu-lagu yang lebih minimalis. Saya suka salah satu lagunya yang berjudul “Kimi to Iu Hana” yang rupanya adalah lagu asli dari band Jepang Asian Kung-Fu Generation. Kemudian saya membeli albumnya yang lain “Breathing Underwater”, di sini lagunya sudah lebih seperti lagu kebanyakan tetapi untunglah saya masih bisa mengenali vokalnya. Sebagai artis yang awalnya terkenal di youtube lewat mengcover lagu-lagu tenar, sepertinya saya bisa mendengar artis ini terus menerus.

13. mihimaru GT

Pertama mendengar namanya saya teringat Gran Turismo, gim balap yang dulu saya mainkan waktu masih zamannya Playstation (rupanya masih eksis ya sekarang?). Tapi bukan mau membicarakan gim itu lah sekarang. Grup ini berupa duo, Miyake dan Hiroko (dan rupanya nama GT itu memang diambil dari Gran Turismo, silakan dicek di wikipedia), satu laki-laki dan satu perempuan, yah pentingnya apa. Nuansa musik mereka sering berkutat pada RnB, Hip Hop tapi yah kalau yang memiliki stigma tertentu terhadap musik Jepang jelas akan tetap merasakan musiknya sebagai musik Jepang. Saya sendiri bingung dengan klasifikasi musik dalam genre-genre tertentu tetapi untuk memudahkan marilah kita sebut saja musik mereka memiliki nuansa modern (dalam arti kata kekinian, bukan modern dalam lingkup abad 19 saja) yang kental, nuansa urban (jadi jangan harap bisa mendengar musik macam “Bengawan Solo” dalam tembang mereka). Musik mereka cukup segar bagi telinga saya dan memberi semangat tetapi di sisi lain pun memiliki emosi tersendiri. Salah satu contohnya untuk soal emosi mungkin tembang pertama mereka yang saya dengar di Animax, “Kakegae no Nai Uta” yang dipakai untuk salah satu film Doraemon. Sampai saat ini saya masih suka memutarnya di iPod saya, lagu-lagu mereka yang lain dan lebih recent, sebagai moodmaker ketika sedang bosan menunggu kelas di kampus.

12. Vierra

Perlu saya jelaskan sebelumnya bahwa saya punya kebiasaan untuk membersihkan play count database iTunes saya secara tanpa alasan. Jadi saya agak heran kok bisa-bisanya ada nama ini di urutan ke-12, mungkin karena sejak terakhir saya bersihkan saya baru mendengar album mereka. Buat saya, jujur saja, mereka ini macam guilty pleasure karena mungkin secara kualitas pun mereka ya kebanyakan gak bakal beda-beda jauh. Kualitas mereka tidak menonjol banget tapi entah apa saya menikmati mendengarkannya. Itu saja. Saya sendiri juga tidak tahu banyak soal sepak terjang mereka.

11. Megurine Luka

Kembali ke dilema saya ketika membahas Gumi sebelumnya. Untuk yang satu ini tapi saya agak lupa, atau memang tidak tahu, suara siapa yang digunakan sebagai basisnya. Selain itu juga perlu dicatat Megurine Luka sama dengan Hatsune Miku, berbeda dengan Gumi, karena ditelurkan oleh perusahaan yang berbeda meski berdasar pada aplikasi yang sama dari Yamaha. Saya pun melihat ada perbedaan kualitas antar ketiga Vocaloid ini. Gumi memiliki kualitas yang lebih manusiawi sedangkan Luka dan Miku lebih mekanik. Tetapi ada satu kelebihan Luka adalah bilingualnya, kemampuan melafalkan teks bahasa Inggris Luka lebih baik dibanding Miku yang berasal dari satu perusahaan. Selain itu pun karakter suaranya pun berbeda, memiliki karakter yang lebih berat sehingga apabila digubah dengan baik kekurangan dari suara yang terlalu mekanik dapat tertutupi. Dengan karakter suaranya pun lagu yang dibaakan dapat lebih menarik perhatian saya, contoh lah menurut saya memang karakter suara Luka pantas untuk lagu yang lebih mengayun atau jazzy, di lain kesempatan pun electronic juga terasa pas.

10. KOKIA

Saya sudah mendengar namanya sejak awal lulus SMA tapi baru berkesempatan mendengarnya mungkin sekitar awal tahun ini. Pertama saya dengar adalah lagunya untuk mengisi gim PS3 (yang tidak saya mainkan jelas) Ar Tonelico III, berjudul “EXEC_COSMOFLIPS/.” dengan lirik yang abstrak berbalut bahasa buatan untuk cerita dalam gim itu disuarakan oleh karakter suara yang menghipnotis jelas membuat saya ingin mendengar lebih banyak. Saya pun mencari dan mendengarkan lebih banyak lagunya, barulah saya dapatkan keunggulan dari penyanyi ini. Jelas bagi saya yang seringkali mementingkan kualitas vokal adalah karakter vokalnya yang terbilang unik. Saya katakan unik karena memiliki kelembutan tetapi juga mampu memperluas karakternya. Bagi saya untuk menjelaskannya dengan singkat suaranya dapat terdengar seperti suara anak kecil, suaranya dapat menjadi polos tetapi dari kepolosan itu suaranya menjadi terasa megah. Terlebih dalam beberapa tembang ketika tembang itu memang diiringi oleh musik yang mendukung. Di antara jajaran penyanyi yang saya senangi karakter suaranya jelas KOKIA ini adalah salah satunya. Saya belum banyak mendengar kabar terbarunya, belakangan saya habiskan mendengar lagu-lagunya yang sudah saya nikmati sejak awal tahun itu. Salah satu yang saya rasa cukup menarik perhatian adalah ketika Ia mengcover salah satu tembang lawas yang cukup terkenal, “What a Wonderful World”.

9. Padhyangan Project a.k.a. P Project

Siapa masih ingat grup satu ini? Mereka yang sudah sadar diri di tahun 90an saya rasa mengenalnya. Kalau sekarang ini populernya Project Pop, dulu terkenal adalah P Project ini. Buat saya P Project ini lebih nakal dan lebih pol lucunya dibanding penerusnya sekarang. Saya tidak menghapal betul diskografi mereka tetapi satu hal yang saya tangkap dan anggap sebagai corak mereka adalah kemampuan mereka untuk memparodikan lagu-lagu dengan lirik yang lucu tetapi tetap bermakna. Dalam artian makna tersebut bukan sebatas lucu-lucuan saja tetapi juga bisa diperhitungkan sebagai sebuah kritik sosial. Kalau sekarang ada Efek Rumah Kaca yang juga memasukkan kritik sosial dalam nuansa yang murung, P Project berhasil membuat pendengarnya tertawa menertawakan diri sendiri seperti Benny dan Mice. Kritik yang disampaikan dengan tawa. Saya ambil contoh dengan lagu mereka yang sering saya dengar belakangan. Lagu mereka berjudul “Reformadai (Reformasi Damai)” yang memparodikan sebuah lagu Barat untuk melodinya (saya lupa lagu apa) sedang liriknya sendiri membicarakan tentang reformasi. Lagu yang memang dirilis sekitar tahun 98 itu membicarakan bagaimana reformasi tuntutan mahasiswa, kondisi reformasi, dan nasib mahasiswa yang berguling dengan skripsi. Bagi saya, bila ditilik lagi lagu ini masih relevan bahkan 12 tahun setelah lagu itu dibuat.

8. The Beatles

Siapa pula yang tidak tahu mereka? Lagu-lagu mereka sering dibilang timeless, tidak pernah membosankan, apa lah. Meski jujur saya sedang bosan mendengarkan mereka sejak beberapa bulan lalu. Saya sudah berkenalan dengan mereka mungkin sejak masih TK tetapi baru benar-benar mendengar mereka saat SMA ketika saya selesai membaca novel Haruki Murakami yang judulnya diilhami salah satu lagu mereka. Jadilah lagu itu pula yang masih saya dengarkan sekarang, lagu berjudul “Norwegian Wood”.

7. Hatsune Miku

Di kalangan para otaku dinobatkan sebagai world first virtual diva. Tapi apa yang hebat dari Vocaloid satu ini? Popularitasnya, menurut saya. Sama seperti saya sudah menyebut dua Vocaloid sebelumnya (Gumi dan Megurine Luka) saya masih dilema untuk membahasnya. Mengenai kesan dan pesan saya terhadap mereka alangkah lebih baiknya jika membaca entri saya yang lain itu, yang sudah saya tulis 5 bulan lalu. Mengenai karakternya sendiri di antara 3 Vocaloid yang masuk dalam daftar 18 ini Hatsune Miku memiliki kualitas yang bisa membuatnya disebut moe, dengan suara yang masih mekanik kental, cempreng, tetapi justru itu tampaknya yang membuat dia memikat. Kalau saja mungkin dimasukkan unsur desain karakternya yang berbeda dengan Luka dengan paras dewasa atau Gumi dengan dandanan yang absurd, Miku memiliki desain yang lebih remaja. Justru buat saya Miku ini Vocaloid yang biasa-biasa saja, bahkan saya masih berpikir macam Meiko atau Kaito lebih enak walau lebih tua. Tetapi di dunia sekarang ini popularitas bisa mengalahkan itu semua, dan rupanya saya masih terbawa arus mainstream untuk terus memutar lagu-lagunya.

6. Linkin Park

Saya mulai lelah.. Band rock yang sudah mendunia, siapa yang tidak tahu. Silakan cari tahu info soal band yang diisi vokalnya oleh Chester Bennington ini, gunakan Google. Pertama kali saya degar saat masih SD dari kakak saya yang menyodorkan video klip “In the End” yang fantastis itu kepada saya. Kemudian saya melihat lagi “Pts. of Athrty” yang membuat saya semakin kagum, dengan video klipnya. Saat SMP saya mulai sok-sok mendengar lagu cadas, rap, g4ul abis lah pokoknya, saya tidak banyak peduli soal lagu mereka. Pokoknya mereka keren dan saya gaul, itu saja. Baru saat SMA saya pindah aliran ke Jepang dan saat SMA ini mereka merilis album ketiga mereka “Minutes to Midnight” saya merasakan kekaguman saya pada mereka lebih dari sekedar kegaulan saja. Walau ada saja yang kecewa dengan album ini karena LP tidak lagi Nu Metal seperti dulu buat saya justru di sini band ini memberi saya pencerahan dalam mendengar musik. Lirik mereka yang emo yang bukan sekedar keluh kesah tetapi menjadi sebuah deskripsi tentang kehidupan dari sudut pandang subjektif mereka. Sampai saat ini saya belum membeli album terbaru mereka tetapi dari dua single yang sudah saya dengar salah satunya adalah “The Catalyst” saya kembali merasa kagum pada mereka. Mungkin karena saya dengarkan lagu itu sambil membaca teks eksistensialisme, lagu itu menjadi begitu keras di telinga.

5. Olivia Ong

Saya pertama tahunya dia ini penyanyi beraliran bossa, swing, jazz, apa lah. Tapi ternyata dia menyanyi pop juga, bukan masalah sih. Karena pertama saya tahu dia ini penyanyi aliran bossa maka jelas apa yang membuat saya suka adalah lagu-lagunya yang halus dan bisa menenangkan mood, meski tidak berhasil tiap saat tapi cukuplah untuk sekedar menjadi moodmaker. Tembang pertamanya yang saya dengar, over dari “The Girl from Ipanema” yang saya dengar ketika saya baru saja menyalakan iMac saya untuk pertama kali. Saat itu library musik masih kosong melompong dan hanya ada lagu ini dan satu album Bali Lounge serta beberapa album Emi Fujita. Jadilah saya menikmati dan terus sampai beberapa saat lamanya kemudian saya mendengarkan tembang-tembangnya yang lain.

4. Tokyo Brass Style

Sebuah grup musik, instrumental, dengan aliran agak jazzy, sering mengaransemen ulang sontrek-sontrek anime menjadi jazz. Salah satu yang cukup menarik menurut saya adalah versi jazz dari “Sora-iro Days”, sontrek anime Tengen Toppa Gurren Lagann, yang mereka bawakan. Dengan nuansa jazz yang menghidupkan kembali lagu J-Pop tersebut tetapi tidak membuat lupa akan lagu aslinya. Lagu-lagu lain yang mereka mainkan ulang beragam dari anime yang lebih baru atau anime yang lebih lama sampai saya saja tidak tahu itu anime apa. Salah satu album mereka misalnya yang khusus berisi lagu-lagu dari anime keluaran studio Ghibli, hanya beberapa yang bisa saya kenali. Di album yang sama ini juga mereka dengan cantik mengaransemen ulang dan mengubah nuansa lembut dari “Itsumo Nandemo” dari anime Sen to Chihiro no Kamikakushi menjadi lebih ceria dan bersemangat. Saya sendiri lupa bagaimana pertama kali tahu tentang mereka, lupakan hal itu mereka ini jadi salah satu yang sering saya putar di iPod saya ketika saya sedang ingin sedikit berjazzy ria di samping pilihan lainnya.

3. SCANDAL

Kata kunci untuk mereka mungkin ada dua, ‘seifuku’ dan ‘rock’. Kombinasi yang tidak terbayangkan rasanya. Sebagai band yang berisi empat personil cewek, jelas menjadi all-girl band adalah daya tarik sendiri. Membawakan diri pula sebagai band pop-rock, kemudian dengan kata kunci seifuku karena mereka selalu mengkostumkan diri mereka dengan baju-baju yang diinspirasi oleh seragam sekolah. Di satu sisi saya merasa, kalau bisa disampaikan dengan kata yang tepat, kasihan dengan mereka. Karena idealisme saya sendiri mungin bukan tipe yang menjustifikasi sekumpulan perempuan seperti ini, mengobjekkan diri sendiri untuk sebuah hiburan. Tetapi dunia entertainment memang menjadi penuh paradoks. Di satu sisi tadi saya tidak menyenangi perempuan mengobjekkan diri mereka sendiri tetapi di satu sisi lain saya menyenangi musik mereka. Kesampingkan paradoks maka kenyataannya saya mendengar musik mereka cukup sering meski sudah sangat jarang bahkan tidak pernah sejak beberapa bulan terakhir. Lagipula saya bukan tipe yang terlalu menyenangi musik dengan berjingkrakan.

2. Younha

Serius, saya sudah sangat lelah.. Perkenalan pertama saya dengan penyanyi ini, berbarengan dengan saya mengenal YUI. Asalnya pun bisa dibilang hampir mirip, anime Bleach. Lagu mereka sama-sama dipakai untuk sontrek anime tersebut, untuk Younha yang dipakai berjudul “Houki Boshi”. Dengan kesamaan tersebut dulu saya memiliki kebiasaan untuk menyandingkan mereka berdua, imej mereka yang mirip. Sama-sama cewek penyanyi pop, anime, muda, relatif baru. Bedanya yang satu bersenjatakan gitar dan satu lagi piano. Tetapi waktu berjalan dan selang berapa lama saya tidak pernah mendengarnya lagi, rupanya dia kembali ke negeri asalnya yaitu Korea Selatan dan meniti karir kembali sebagai penyanyi K-Pop. Saya baru mendengarnya lagu lama setelah lulus SMA dan saya sudah memiliki library musik yang lebih beragam. Saya menyadari imej lamanya sudah jauh berubah tetapi saya jadi menyenangi bahwa rupanya dia memiliki vokal yang menarik. Contoh yang saya suka adalah “My Song and…” dari album “Someday” di mana pada tembang tersebut saya merasakan kekuatan vokalnya yang dahsyat dan bahasa Inggris yang bagus. Setidaknya menurut saya.

1. Akiko Shikata

Kalau mau dibilang, di antara 18 nama yang sudah saya sebutkan nama terakhir inilah yang paling tepat posisi dan kenyataannya. Kenyataannya memang inilah artis yang paling sering saya dengar lagunya sejak pertama saya berkenalan dengan lagunya di gim Ar Tonelico II sekitar awal atau tengah tahun 2009 lalu. Kemudian saya mencari lebih jauh lebih dari sekedar lagunya yang digunakan untuk sontrek saga gim tersebut. Bagi saya lagu-lagunya memiliki kemampuan menghipnotis, membuat saya entah kenapa tidak merasa bosan dan merasa dibuai oleh lagunya. Bukan hanya sekedar lagunya yang membuai, dengan lirik yang bisa terkesan datang dari cult tertentu tetapi memiliki keindahan tersendiri. Salah satu yang terasa cocok misalnya untuk ritual pemanggilan hujan ada di album “RAKA” berjudul “Haresugita Sora no Shita de”. Sedangkan untuk keindahan yang lebih menyeluruh saya memilih album “Haikyou to Rakuen”, contoh lagu dari album tersebut yang saya pilih adalah “se l’aura spira” yang aslinya adalah lagu klasik Italia. Kemampuan yang cukup membuat unik artis satu ini adalah kemampuannya bernyanyi dalam beragam bahasa, meski saya sendiri kurang tahu akurasinya, tetapi dalam lagu “se l’aura spira” tersebut dan lagu “Mare” (ada dua versi untuk lagu ini) yang keduanya berbahasa Italia dan keduanya dinyanyikan dengan indah dan cantik. Selain sebagai vokalis artis ini sendiri juga mengomposisi lagunya sehingga ada beberapa albumnya yang berupa instrumental biasa dan instrumental yang dibuat seperti music box/orgel. Sehingga bagi saya sendiri saya mengagumi artis ini yang diberkahi suara yang menyentuh dan kemampuan komposisi yang menghasilkan aransemen pendukung setia vokalnya. Sekian 18 teratas dalam library saya.

Perlu saya ingatkan sekali lagi akurasinya jelas sangat diragukan karena toh ada artis yang tidak terlalu saya senangi masuk, penyebabnya bisa beragam. Sementara yang saya senangi justru tidak masuk. Terlihat lagi paradoks posisi 3 Vocaloid yang ada di dalam 18 itu, meski saya pribadi paling menyukai Gumi posisinya justru paling bawah bukan? Pada akhirnya daftar seperti ini memag tentatif dan tidak penting lah. :mrgreen:

Contoh yang saya suka dan kagumi tapi tidak masuk dalam daftar misalnya: homogenic, Efek Rumah Kaca, Bob Dylan, Pink Floyd, Yellowcard, Natasha Beddingfield, Nujabes, Mika Nakashima, Bali Lounge, Lily Allen, Bossanova Jawa, RAN, dan sebagainya lah. Profil FB saya masih lebih tepat kayaknya 😆

Iklan