I’m not an avid visual novel player.

Bahkan saya bisa menghitung jumlah “permainan” menyerupai visual novel yang pernah saya mainkan. Tapi kali ini saya ingin membahas visual novel yang baru rilis awal tahun ini. Daya tarik awalnya adalah sejarah munculnya visual novel ini sendiri. Bisa dibaca sendiri di situsnya, beberapa entri pasca perilisannya didedikasikan untuk menceritakan sejarahnya. Kalau berkenan pun bisa menelusuri arsip dalam blognya hingga tahun 2007. Kalau berminat mengunduh pun tersedia di situsnya.Kalau sudah memainkannya dan kepincut lagu-lagunya pun juga disediakan tautan untuk mengunduh lagu-lagunya di situsnya tersebut. Keduanya bisa diunduh gratis.

Berdasarkan cerita, visual novel ini berputar pada dua konsep. Konsep pertama dari kondisi protagonis (terserah kalau mau mengasosiasikan dengan diri sendiri) yang dilempar untuk memulai sebuah kehidupan baru, kedua adalah mengenai penerimaan atas kondisi yang tidak biasa menjadi sesuatu yang biasa. Bagian yang kedua ini mengantar ke suatu gimmick dari visual novel ini, di mana visual novel ini dibuat menjadi sebuah dating sim yang karakter perempuannya adalah perempuan-perempuan (atau siswi) sekolah berkebutuhan khusus. Dengan kata lain karakter yang ditemui dalam visual novel ini sebagian besar adalah gadis yang memiliki kekurangan, tentu saja ada karakter minor yang tidak senada tetapi mereka tidak jadi pilihan untuk err… dikencani.

Pertama mendengar tentang visual novel ini rasanya sekitar 2008 atau 2009. Waktu itu sedang dikasih proyek oleh unit di kampus saya dulu untuk membuat visual novel. Maksudnya mencari referensi dan dapatlah mengenai visual novel ini yang saat itu masih berupa demo yang hanya memainkan bagian 1 (Act. 1). Saat itu yang menarik perhatian pertama adalah gimmick dari visual novel ini di mana protagonisnya berinteraksi dengan gadis-gadis berkekurangan tersebut. Saat itu muncul pikiran, “I think I can relate well with this story.” Dan pikiran itu bertahan sampai 4-3 tahun kemudian saya memainkan visual novel ini secara utuh, 2 dari 5 rute (yang tampak resminya) tersedia. Kenapa saya merasa bisa berhubungan dengan konsep awalnya? Yah, sebutlah latar belakang pribadi secara a piori dan a posteriori setelah memainkannya pun rupanya gimmick tersebut bukanlah sekedar gimmick seperti ninja yang dapat menggerakkan pasukan zombi.

Hal lain yang membuat saya bisa merasa bersahabat dengan jalan cerita juga didukung dengan insight dari protagonis, Hisao Nakai, itu sendiri. Cuplikan gambar di atas dengan sebaris kalimat yang dari Rin, yang tergambar tersebut, menggambarkan protagonis kita dalam visual novel ini. Kalau sebelumnya saya sebut konsep pertama dalam visual novel ini adalah bagaimana memulai sesuatu yang baru setelah dilempar tanpa kehendak. Prolog visual novel ini menceritakan Hisao yang mendapat serangan jantung mendadak. Kemudian diketahui bahwa Ia menderita suatu kelainan jantung yang membuatnya terpaksa pindah ke sekolah baru yang dapat menunjuang kebutuhan medisnya, di sekolah baru inilah Ia bertemu dengan “teman-teman” baru termasuk 6 gadis yang 5 di antaranya memiliki rute masing-masing (untuk dikencani tentunya). Pada awalnya Hisao menyesali nasibnya ini, mendapat penyakit yang tidak mengenakkan dan pindah sekolah di tahun terakhirnya sekolah, akan tetapi seiring berjalan cerita dan interaksi dengan karakter lain, asumsikan dimainkan dengan baik, kita dapat menemukan Hisao kemudian menemukan kembali jalan hidupnya dan memulai hidupnya lagi dengan menerima kondisi Ia saat ini. Meninggalkan Hisao yang lama dan menjadi Hisao yang, yang menderita kelainan jantung.

Kelainan jantung yang diderita Hisao adalah bagian dari gimmick yaitu disability dalam VN ini. Penerimaan Hisao, atau protagonis atau si aku, dalam cerita ini adalah pesannya. Pesan klise tentang bagaimana seseorang menerima kondisinya tanpa mengasihani dirinya dan bisa menjalani hidup dengan kondisi yang terberi itu. Hal yang belum bisa saya wujudkan memang. :D

Tapi bukan sekedar memberi penyemangat pada yang merasa memiliki kekurangan tertentu, yang signifikan, untuk menjalani hidupnya sebaik mungkin. Dulu ibu saya selalu bilang bahwa setiap orang pasti punya kekurangan, terlihat atau pun tidak. Meski bahasa saya lebih senang menggunakan kata, kecil maupun besar. Kelainan jantung Hisao mungkin besar, seperti Lilly yang buta. Tetapi kekurangan kecil seperti saya tidak sanggup mengendarai mobil, tidak bisa melafalkan ‘R’ pun bukan berarti dilewati begitu saja. Kekurangan itu adalah bagian dari diri kita, yang menjadikan diri kita. Radikalnya tanpa kekurangan itu justru diri kita menjadi tidak lengkap, cacat, bukan justru menjadikan kita lebih sempurna. Ini mengantarkan pada konsep kedua.

Konsep kedua sederhananya adalah seperti pemutarbalikan apa-yang-normal dan apa-yang-tidak-normal. Di luar sekolah Yamaku bertemu dengan salah satu siswa/i Yamaku adalah sesuatu yang janggal dan butuh penanganan khusus. tetapi di dalam Yamaku yang merupakan sekolah untuk siswa/i berkebutuhan khusus justru sebaliknya. Menarik hal ini keluar, yang pertama membuat orang terheran (setidaknya beberapa kenalan saya) ketika mendengar tentang VN ini adalah sebagai sebuah dating sim kita dihadapkan pilihan pada gadis-gadis berkekurangan. Sudah saya sebut di awal gimmick tersebut justru yang membuat saya semakin antusias, dan antusiasme saya tidak terbayar percuma, tetapi antusiasme itu rupanya tidak selalu ada di orang lain. Maka masih senada dengan konsep kedua yang saya sebut itu, visual novel ini dengan penulisan cerita yang baik mampu memberi pesan mengenai bagaimana berinteraksi dengan mereka yang, tidak normal di mata sehari-hari kita.

Saya juga masih sering merasa canggung ketika berhadapan dengan pengemis yang berkekurangan di pinggir jalan. Atau di kampus pun menemui mahasiswa/i serupa. Bagi mereka itulah diri mereka, tetapi saya sendiri merasakan kecanggungan bagaimana agar tidak salah bertingkah. Dalam bahasa VN ini, bagaimana bercinta dengan seorang gadis buta? Bagaimana merasakan apa yang Ia lihat? Itu salah satu contoh saja.

Bicara soal bercinta. Sebagai dating sim VN ini datang dengan adegan yang memiliki rating 17+. Ini mungkin bisa menarik kontroversi. Tapi mengesampingkan kontroversinya terlebih dahulu saya merasa tidak terlampau keberatan dengan keberadaan adegan tersebut. Sebagai sebuah VN saya lebih mendapati seperti membaca Dance Dance Dance beberapa minggu lalu atau Samurai: Kastel Awan Burung Gereja saat SMA dulu. Saya sendiri baru menemukan adegan 17+ di satu rute saja dan saya tidak menemukan penggambarannya lustful lebih seperti ketika saya membaca novel yang kedua itu. Meski saya samar ingat seberapa eksplisit dalam novel kedua itu. Penggambaran adegan 17+ digambarkan dengan sederhana, visual yang menyertai pun tidak dibuat untuk membangkitkan birahi atau semacamnya. Karena pula ini adalah sebuah VN yang berat teks, maka setidaknya perhatian bisa teralih ke teks dibanding gambar. Kalau itu pun masih dirasa tidak nyaman, tersedia opsi untuk mematikannya. Saya sendiri tidak mematikan untuk mendapat keseluruhan ceritanya.

Saya dapat mengasosiasikan diri dengan ceritanya, dengan gimmick-nya, dan gimmick tersebut pun dikembangkan menjadi sebuah cerita yang baik membuat saya dapat menikmati VN ini. Meski insight Hisao yang saya katakan menarik itu sebenarnya adalah sesuatu yang sudah biasa saja tetapi menarik. Terlebih apabila di awal terasa kurang bisa me-relate dengan cerita yang akan diterima. Terserah mau menilai Hisao sebagai seorang sinis maupun realis (atau bahkan galau tingkat akut), akan tetapi menempatkan diri sebagai protagonis bukanlah hal yang buruk juga kalau memang ingin mengapresiasi sisi emosional dari VN ini. Adegan klise dan keju tetap ada, sebagaimana sterotyping jenis karakter di luar kekurangan mereka masing-masing. Tapi betapapun klise sebuah adegan di penghujung cerita Lilly tetap bisa membuat saya meneteskan air mata.

Ini tentang bagaimana menerima kondisi tidak mengenakkan dalam diri dan juga dalam orang lain. Dalam bahasa kejunya, bahasa cintanya, bagaimana mencintai kekurangan diri sendiri begitu pula kekurangan orang lain. It’s a dating sim after all.

Anyway, If you think I’m being too serious. You should thank this guy for the more dependable review rather than my somewhat-trying-to-convey-something-personal review. Also check out the postscript on his review, for dat feel bro moment.

P.S. Selamat Tahun Baru 2012 bagi yang merayakan. Meski saya tidak merayakan, Katawa Shoujo yang rilis pada tanggal 3 Januari 2012 kemarin adalah sebuah kejutan dan hadiah awal tahun yang cukup memuaskan untuk mengawali tahun ini :lol: