Minus 22 jam dari minggu perkuliahan kedua di semester 5. Di sela pengerjaan tugas membuat rangkuman tulisan Slavoj Zizek dalam buku “First as Tragedy, Then as Farce“. Bagian kedua buku ini, bagian yang saya kebagian disuruh baca, membahas hipotesis komunisme di era kontemporer ini. Sempat saya kira komunisme itu sudah basi dan terlalu loyo untuk diungkit lagi. Tapi saya ternyata melupakan fakta bahwa eksistensi komunisme tetap seksi di era demokrasi liberal ini, karena anti mainstream itu keren.
Saya bukan komunis, meski dulu pernah berpikir untuk menjadi satu. Justru adanya saya gerah membaca halaman-halaman dalam bagian tengah buku ini. Terlalu emosional, kalau dibandingkan dengan paper teman saya tentang media sosial. Terlalu kiri, terlalu membosankan. Cukup menggunakan kata “terlalu” karena masalahnya bukan di “kiri”, “membosankan”, “emosional” tapi di “ter-la-lu” seperti kata Bang Rhoma Irama. Zizek tidak salah juga dalam menganalisis dan mengkritik fenomena kontemporer, paling kontemporer yang sudah saya baca di sini dia mempertanyakan Obama, rasanya Zizek sama seperti kebanyakan orang sekarang yang menanalisis perkara-perkara yang membuat kenapa masih ada saja orang yang tidak berpuas diri kalau memang demokrasi liberal dan kapitalisme memang adalah jawaban untuk kebahagiaan atau secara sosialnya untuk perdamaian dalam perbedaan, tapi tetap satu. Tapi kalau Zizek dirasanya terlalu politis, terlalu sosialis, terlalu kiri, dan seolah di matanya dia memandang segala yang relevan adalah problematika manusia hidup bersama. Saya menemukan di lain kesempatan ada Michael Foley yang saya baca bukunya, “The Age of Absurdity” saat liburan kemarin, memberi pandangan yang lebih personal, lebih membumi dibanding Zizek. Saya harusnya tahu memang dua orang ini harusnya memandang dua problem berbeda, dengan dua pandangan berbeda. Saya lupa juga di bagian pertama buku Zizek ini sebelumnya Ia mengkritik kapitalisme yang tetap saja jahat walau dipuja orang-orang.
Kembali soal Zizek dan Komunisme yang Membosankan-karena-terlalu-diulang-ulang-terus-sampai-bosan-dengarnya, ini pendapat pribadi saya saja. Keberatan saya ada di bagian pandangan Zizek yang terlalu politis itu. Kalau politik kita anggap tentang bagaimana manusia hidup bersama, baiklah manusia memang hidup bersama tetapi memandang segala sesuatu tentang kebrsamaan hidup manusia bersama adalah sesuatu yang rumit, membosankan. Terima kenyataan bahwa komunikasi dan kehidupan bersama adalah sesuatu yang absurd dan terlalu absurd pula untuk dibahas. Saya katakan komunisme yang dibahas Zizek di sini membosankan, sampai titik ini, karena penyebab itu. Buat saya mencari jawaban, atau pembenaran, atas jungkir baliknya kehidupan kontemporer dengan mengulas manusia secara kumpulan individu atas dasar pandangan bahwa manusia adalah individu yang hidup bersama–politis–adalah cara pandang yang membosankan. Saya lebih suka pendekatan Foley yang lebih personal, baginya jawaban ditemukan dengan menjadikan diri sebagai crank, bukan filmnya Jason Statham. Pendekatan Foley lebih menyebalkan sebetulnya dibanding Zizek yang lebih manusiawi. kalau saya mau berkata, Zizek memilih untuk mengurusi manusia. Foley justru memilih untuk keluar, sejenak, dari kumpulan manusia.
Kalau saya mau mengikuti Zizek, mungkin saya akan lebih berisik. Tapi saya memilih untuk tutup telinga. Sebulan sudah saya tutup telinga dari suara speaker masjid dan dakwah musiman di televisi dari beragam jenis ustadz. Ternyata selepas musim religi itu masih ada lagi ustadz-ustadz sok inkonvensional yang masih malang melintang, di sinetron. Di lain kesempatan saya bertemu dengan segerombolan darah muda yang sibuk membahas anime teranyar, di sisi lain ada lagi darah muda lain yang berhingar bingar dengan lagu pop. Mungkin hidup ini emang cuma sinetron. Sepuluh tahun yang lalu arc perang melawan terorisme dan Islamophobia dimulai, sekitar 20 tahun lalu arc perang melawan komunisme sudah selesai. Film Captain America menghidupkan lagi cerita arc perang melawan Naziisme di tahun 40-an. Itu semua dari pandangan Amerika, kalau dunia ini memang sejarah dan sutradaranya adalah Amerika. Maka komunisme seharusnya memang sudah basi. Lucu kalau saya merasa Zizek sendiri yang justru membuat komunisme itu menjadi membosankan.

Saya juga tak suka Obama, dia ngerepotin Israel soalnya. Lalu, yang jadi benchmark komunisme sekarang apa? RRC?
Saya enggak suka Obama mungkin cuma karena hype-nya aja ya. Secara pribadi sih saya enggak acuh
Entah ya, bukan Korut?
dah tau indozizekian.blogspot.com?
Baru tahu sekarang ini. Makasih infonya sih, haha.
Menarik juga bisa nemu satu blog yg mengangkat Zizek secara khusus. Saya sendiri baru mulai menyentuh Zizek sejak sekarang ini. Jadi belum tahu banyak juga.
Tapi ya, mari dicoba dan dijalankan saja..