Beberapa jam menjelang hari pertama perkuliahan semester 5 di universitas negara ini. Beberapa jam berlalu setelah peringatan 10 tahun peristiwa 11 September. Kemudian di dini hari ini muncul wangsit untuk membuat sebuah tulisan. Saya tidak mau berbicara tentang peristiwa 11 September, karena 10 tahun yang lalu baru siang 12 September saya mengetahui persis kejadian pastinya. Bukan kondisi informasi masa itu yang belum secepat koneksi HSDPA ponsel pintar saya, hanya perkara ketidakacuhan.

Dua tahun yang lalu saya baru mulai kuliah di sini dan mengambil satu mata kuliah pilihan. Mata kuliah pilihan itu memberi tugas akhir semester untuk membuat sebuah komik strip. Komik strip yang saya buat sederhana saja, cukup satu halaman. Seingat saya mungkin itu satu-satunya komik genah yang saya buat sekian lama saya keranjingan komik. Yah, maksudnya saya katanya komikus tapi kok tidak pernah membuat komik yang tuntas. Bukannya menghabiskan waktu membaca komik atau sekedar fangirling serial atau karakter dari serial tertentu saya lebih menghabiskan waktu merenungi apa yang sudah saya buat, padahal nyatanya belum membuat apa-apa. Ditanya tentang serial animasi, saya malah lebih mahfum menjawab tentang serial TV Amerika yang teranyar. Kadang saya bingung jadi saya ini sebenarnya komikus atau bukan? Walau saya tahu komikus-komikus lain juga pasti menonton serial-serial itu, kalau tidak pasti ya kemungkinan itu ada.

Kembali ke soal satu-satunya komik saya yang dirasa genah ini. Cerita pendek yang menceritakan malaikat Jibril dan tugasnya. Saya buat ini berdasar apa yang dulu diajarkan ustadz, bahwa tugas malaikat Jibril adalah mengantarkan wahyu. Muhammad saat menyepi di gua Hira didatangi oleh Jibril dan disuruh membaca, tiga kali. Tapi komik strip yang saya buat sama sekali gak Islami, entah kenapa. Kalau dilihat ustadz saya itu dulu mungkin beliau terheran-heran kok bisanya saya buat komik begitu.

Di komik itu Jibril diberi tugas mengantarkan sebuah surat yang tertutup. Tetapi di tengah jalan suratnya terbaca secara tidak sengaja olehnya. Ia membaca lagi isi surat itu dan berpikir isi pesannya terlalu rumit dan khawatir si penerima pesannya nanti tidak dapat mengerti maksud dari pesan itu. Khawatir karena Ia kira tugasnya bukan sekedar menyampaikan pesan dengan mengantarkan surat saja tetapi bukankah juga itu termasuk memastikan si penerima mendapatkan maksud dari pesan itu. Pada akhirnya Ia tidak ambil pusing dan berpikir, bahwa si pengirim tentunya mengirim pesan yang semestinya bisa dipahami si penerima pesan.

Maknanya apa? Saya enggak ada maksud memasukkan perdebatan teologis ketika membuat komik strip ini. Niatan saya ketika itu ya cuma untuk lulus satu mata kuliah ini. Kebetulan saat itu saya sedang ada draft karakter “Jibril” ini, yang memang seorang kurir. Saya gunakan draft karakter itu untuk tugas akhir dan selesai sudah. Saya pernah mempublikasikan komik strip ini dulu, tapi kalau berkenan mau dilihat silakan lihat dimari.