Saya bukan mau menulis resensi. Kebetulan saja baru selesai membacanya dan terpikir untuk berbagi kesan sedikit, yang tidak cukup melalui microblogging macam plurk atau twitter. Rasanya lucu juga tapi ternyata apa yang ingin saya tulis bukan sebuah resensi yang mendalam tapi tetap saya masukkan dalam blog. Relatif anggapannya akan lebih dalam dan tidak sesantai membaca aliran teks dalam garis waktu di twitter atau plurk. Tapi saya punya kemalasan saya sendiri untuk tidak membuat resensi.

Buku yang baru selesai saya baca judulnya sama dengan judul entri ini. Judul entri ini seperti itu karena saya malas memberi judul atau karena memang saya ingin menggambarkan isi buku itu dari entri ini. Entahlah. Oh, ini bukan buku sebagai buku, ini buku novel. Penulisnya memang penulis kesukaan saya, Haruki Murakami. Beberapa waktu lalu saya menghabiskan membaca memoarnya.

Secara garis besar ceritanya tentang Si Protagonis dengan teman lesbiannya. Awalnya saya kira akan membahas topik homoseksualitas di sini, tapi rupanya tidak banyak. Dengan kata homoseksualitas saya memaksudkan kata `homo` dan `seksualitas` di mana `seksualitas` adalah tema yang cukup umum dalam novel-novel Murakami. Seksualitas bisa ditemui di sini walau tidak sevulgar yang saya temui dalam Norwegian Wood. Tapi tak usah lah dibahas. Tema yang dibahas justru `kesendirian`. Lalu saya ambil sebuah paragraf dari novel tersebut:

And it came to me then. That we were wonderful travelling companions, but in the end no more lonely than lumps of metal on their own separate orbits. From far off they look like beautiful shooting stars, but in reality they’re nothing more than prisons, where each of us is locked up alone, going nowhere. When the orbits of these two satellites of ours happened to cross paths, we could be together. Maybe even our hearts to each other. But that was only for the briefest moment. In the next instant we’d be in absolute solitude. Until we burned up and became nothing.

That paragraph struck me. The first time I read it, I’m amazed. The second time, I laughed.

Masih ada baris-baris lain yang juga menarik tapi untuk kali ini biarkan saja paragraf itu dulu. Secara ringkasnya, menarik adalah bahwa memang begitu seringkali terasa hubungan dengan orang lain. Komunikasi. Terhubung untuk beberapa saat lalu kemudian terpisah lagi, dan sadar bahwa manusia memang sendiri. Dalam novel ini Haruki Murakami benar-benar memainkan perasaan kesendirian dengan menarik. Ditambah dengan roman yang membuatnya seperti fanservis, yang tetap menarik.

Kalau dari biasa saya baca kesendirian tiap karakter dalam novel-novel Murakami dibangun begitu saja. Di novel ini hal itu diperkuat. Seolah ditegaskan benar-benar bahwa tiap karakter benar-benar adalah sendiri, benar-benar adalah individu manusia yang terpisah satu sama lain. Hanya terhubung oleh segala macam cara komunikasi. Jam kerja, telepon, sementara pada nyatanya mereka tetap sendiri di luar itu. Dalam telepon pun mereka tetap sendiri di kotak telepon, di kamar tidur, kotak telepon entah di mana. Kemudian bagaimana berharganya juga manusia lain bagi satu manusia, ketika manusia lain itu hilang barulah kesendirian itu datang.

Dan seperti sekarang liburan semester dimulai, perlahan manusia-manusia itu menghilang.