Biarlah saya menyetel lagu terlebih dahulu. Selama beberapa hari, atau minggu, terserah bagaimana kita mendefinisikan dan membagi waktu, ini saya berkutat dengan tugas-tugas kuliah. Mau tidak mau mengesampingkan tugas lain yang mau tidak mau juga harus terkalahkan oleh otoritas kampus yang dengan tanpa sadar telah memaksakan masuknya sebuah kewajiban ke dalam pikiran. Sebutlah tugas lain yang seharusnya sama pentingnya, komik, “Cermin Putih”, kemudian ada lagi ajakan berusaha dari teman di kampus, dan melewatkan kesempatan untuk melihat dan memberi sumbangsih terhadap workshop komik. Saya ditenggelamkan oleh kerumitan bahasa Copleston mengenai John Scotus of Eriogena, rangkaian sejarah Hitti dalam History of Arabs, dan Dhamma-sari. Kalau kenyataannya memang Islam bisa berdiri akibat sumbangsih pihak Kristen pun tuduhan-tuduhan kristenisasi itu tidak lain sebuah kegiatan mematikan Islam sendiri. Kalau juga tidak ada aku (anatta) seperti ajaran Buddha, bahwa makhluk, segala unsur adalah paduan dari unsur-unsur lain. Islam tidak akan ada tanpa Kristen juga. Sampai titik ini saya sadar dan teringat bahwa sudah ada banyak hal yang saya dapat sejak terakhir menulis di sini, entah ada yang menyadari atau bahkan ada yang membaca atau tidak.

Sebenarnya banyak yang ingin saya sampaikan. Sama banyaknya dengan deretan huruf (dan angka) yang berdesakan di tiap halaman buku sejarah filsafat tulisan Frederick Copleston, ya hiperbol memang. Hal yang terjadi sejak terakhir menulis pun banyak, sebutlah penyerangan FPI ke pelatihan hak asasi bagi waria–yang tentu dihadiri oleh waria–, bubungan asap, kobaran api, dan tumpahan darah di Bangkok, kebodohan lain mengenai EDMD, dan debat tentang Cak Nur di kelas Filsafat Islam–sejak awal saya selalu skeptis bahkan mengarah pada sinis terhadap kelas ini. Tapi semua hal itu tentang masa lalu, yang sudah lewat, yang bisa/tidak bisa ditolak, kecuali mungkin terangkatnya Anas Urbaningrum sebagai ketua umum Partai Demokrat yang baru beberapa jam lalu. Beberapa hari yang lalu saya menanyakan sesuatu ke teman saya, “kenapa ada orang yang takut dengan hal yang tidak sesuai kehendaknya?”

Arah perbincangan itu mengarah ke beberapa hal, ketidakpercayaan diri, ketidakmampuan menerima kenyataan, atau sekedar rasa takut belaka. Saya berpikir bahwa memang mungkin menjadi sifat dasar manusia untuk takut dan tanduk terhadap hal-hal yang tidak jelas, yang saya maksud ketakutan akan hal-hal tak terjelaskan, yang tak tertangkap entah oleh nalar maupun indera. Hal yang abstrak atau yang tidak/belum terjadi, atau malah yang terlalu besar/kecil hingga tak terpetakan oleh nalar maupun indera. Tapi itu sudah lalu, kemudian saya menghabiskan waktu mengunduh lagu-lagu dari aplikasi vocal synthesizer anyar di antara para otaku.

Berawal dari keinginan untuk melepaskan telinga saya dari sanderaan komposer cantik dari negeri bunga sakura itu juga, Akiko Shikata saya berusaha mencari lagu lain di database iTunes saya dan menjatuhkan pilihan pada sebuah trek berjudul “Double Lariat”. Lagu hasil vocal synthesizer dengan suara berkarakterkan Megurine Luka ini membawa saya ingin mendengar lebih banyak lagu-lagu hasil Vocaloid ini, tak perlulah disebut bahwa saya terdorong untuk mencari karena melihat-lihat fanart berbau shoujo-ai yang diperankan Luka tadi. Setelah menemukan lagu-lagu sambil berbincang-bincang tak jelas makna tentang Vocaloid ini juga dengan teman saya yang lain, saya mencari tahu mengenai suara-suara Vocaloid lain, baik dari yang sudah saya tahu sebelumnya dan lumrah terdengar seperti Hatsune Miku, Kagamine Rin/Len, Meiko, Gackpoid, Kaito, sambil berkutat mencari fanart mereka juga dan buat saya sendiri itu jadi bahan renungan. Terlebih setelah mendengar Sonika dan Megpoid, sebenarnya Sonika masih belum terlalu bagus juga sih dan lagipula itu Vocaloid berbahasa Inggris pertama yang saya dengar (selain Luka yang memang dibuat bilingual Jpang dan Inggris). Sementara untuk Megpoid desain karakternya masih kalah dibanding Luka saya sempat terheran ketika mendengar salah satu lagunya. Dari yang saya cari tahu, lagu berjudul “Miracle∞Gumiracle” itu memang ada kaitannya dengan Touhou, saya sendiri tidak banyak tahu apa itu Touhou, tapi kesan yang saya dapat dari lagu yang dinyanyikan dengan versi Gumi, nama lain Megpoid, ini terasa hampir menyerupai lagu yang biasa didengar di pembukaan anime-anime. Dengan kata lain saya mengatakan bahwa kualitas lagu dan suara yang dihasilkan oleh Gumi ini hampir, kalau tidak mau dikatakan menandingi, menyamai sebagaimana manusia biasa bernyanyi. Perlu dicatat di awal seharusnya, vocal synthesizer di sini berarti pada dasarnya ini adalah program yang mensintesiskan suara untuk membuat lagu dengan memasukkan lirik dan lagu, kemudian vokalnya disesuaikan dengan sampel suara di bank suara sesuai aplikasi/program karakternya.

Maka saya berhiperbolis, kemudian juga setelah melihat video di youtube tentang robot yang diberi program Vocaloid ini. Juga tentang renungan, apa yang saya bayangkan adalah kela di kemudian hari mungkin program Vocaloid ini akan benar-benar menghasilkan idola baru yang bisa menyaingi jawara American Idol sekalipun, bisa menaklukkan Justin Bieber sekalipun. Meski memang sudah tercatat, Hatsune Miku sebagai sebuah/seorang(?) virtual idol yang memiliki fenomena sendiri. Bagi saya pribadi Hatsune Miku itu maish jauh dari sempurna, jauh dari bagus apabila dibandingkan dengan penerusnya. Mungkin nanti Vocaloid3 atau setelahnya di mana suaranya akan semakin baik dan menandingi kenyataan dari suara vokalis manusia sebenarnya. Maka kita kembali ke perdebatan mengenai apa yang belum terjadi dan apa yang kita takutkan. Sepantasnya kah kita takut bahwa di masa depan nanti seniman-seniman olah suara akan bersaing dengan suara-suara sintetik? (Meski sampel suaranya memang masih diambil dari suara manusia, bukan suara kucing setahu saya).

Lalu kemudian sebagai penutup, sebuah bahan renungan lain mengenai apa yang belum terjadi dan apa yang kita takutkan: [link]

..dan saatnya ganti untuk satu trek penghibur, Selamat Ulang Tahun oleh Dee dalam album Recto Verso.